Latest Entries »

percuma qu menunggu cimon q selama nih..

qu cukup sabar menunggunya. tapi q terkadang merasa jenuh dengan keadaan ini.

qu menunggu dengan sabar,terus sabar menunggunya walaupun dy sudah ada yang punya.

akhirnya dy putus dengan pacarnya.

di kira qu, dy putus dengan pacarnya, dy bisa membuka hatinya sedikit saja untuk qu.

ternyata itu tidak.

dy selalu dan selalu sayang dengan mantannya kemarin, yang ada dipikirannya adalah mantannya itu.

qu berusaha untuk bisa mengerti dengan keadaannya.

dy selalu cerita tentang mantannya tu kepada qu, qu terima. sungguh hati qu sakit dengan cerita itu.

qu benar” tidak ada peluang di dalam hatinya, walaupun sedikit pun, itu tidak ada di dalamnya.

akhirnya qu sedikit demi dikit mencoba menjauh darinya, ternyata aqu bisa. tetapi terkadang qu masih mengharapkan dy menjadi pacar qu.

qu tidak menghubunginya sedikit pun, qu smz tidak, tlp tidak, facebook or twitter pun tidak, qu benar” ingin melupakannyan, walau hati tidak bisa, tapi qu terus mencobanya.

pada akhirnya tanggal 04 maret 2011 dy smz qu malam”.

qu tidak tau maksud smz tu pa, tp qu cuma bisa membalasnya.

ternyata smz tu adalah dy nembak qu. di situ hati qu merasa bingung, kenapa tiba” dy bs nembak qu seperti tu?

jujur pas dy bilang nembak qu, hati qu senang bgt. tp knp dsisi laen aqu ragu dengan perkataan dy tu.

aqu bertanya kepada dy, knp dy bs nembak qu, dan dy ingin aqu jadi yg terakhir untuknya?

dy menjawab, aqu baru sadar selama nih klo aqu sedih, senang, ada masalah, selalu kamu yang ada disamping qu. qu bnr” khilangan drmu, mau kah kamu menjadi yang terakhir untuk ku? aqu bicara seperti ini aqu serius. aqu bukan mencari pacar melainkan pendamping hidup.

dstu aqu bingung, dsisi laen aqu tau dy bgt, klo dy masih sayang sama mantanya itu, sumpah qu bingung. tapi aqu msti menjawabnya, akhirnya aqu jawab IYA. moga” dy bicara itu benar.

ternyata pas jam 02.44 hari sabtu tanggal 05 maret 2011 dy bilang putus ma qu.

sumpah dsto hati qu sakittttt bgt, ingin rasanya qu tampar mukanya.

ternyata dy cuma mempermainkan hati qu za.

percuma qu menunggunya dari SD sampe sekarang qu kuliah, ternyata dy cuma mempermainkan hati qu saja.

hanya butuh 6 jam saja qu jadian bersamanya, sesudah tuh qu putus.

qu menunggunya bertahun”, dibalas dengannya hanya 6 jam saja. sungguh sakit hati qu.

qu hanya bisa nangis, nangis, nangis dan nangis.

sakit hati qu, sakit bgt..

benar” tidak artinya qu menunggunya.

kecewa bgttttttttt…….

tanggal 06 maret 2011 :

mantanya chating dfacebook qu dy bilang seperti ini :

Report : 1:43

hi..

Report · 1:44pm

hai jg

sapa nih?

Report · 1:46pm

ulfa km tman nya anggie y..??

Report · 1:46pm

yaa, w tmnnya anggie..

da pa?

Report · 1:47pm

engga hhmm w cma mwu mnta muph z ats kjadian yg trjdi sma lw..

Report · 1:48pm

mank da kjadian apa?

ko mnt maaf

Report · 1:49pm

iy w twu msalah lw.. w hrap lw bza mmaklumi ap yg lg trjadi sma dy.. dn lw g uzah sdih kya gt.. smua slah w..

Report · 1:50pm

masalah apa?

Report · 1:51pm

mslah lw jd’n sma dy dn it cma smlman.. w jg g ngerti knp dy smpe kya gt..

Report · 1:51pm

ya udah lah gak usah dbahas..

Report · 1:52pm

iyudh muph y.. w harap lw bza ngrti..

mksh..

Report · 1:52pm

ngerti?

w gak ngerti semuanya?

Report · 1:53pm

iy mngkn krna dy blm bza trma smua’a.. lw knal dy udh lma y..??

Report · 1:54pm

w kenal dy udah lama bgt..

dy tmn SD w

Report · 1:56pm

lw jg ska sma dy udh lama..?? muph sblm’a

Report · 1:56pm

tu bkn urusan lo..

terserah dy mo jadian ma sapa, w gak peduli lg.

mo dy jungkir balik, mo ngapain lg..

tu bkn urusan w

Report · 1:57pm

ouwh yudh.. mdh”n lw ngrti.. dn g brlarut dlm ksdihan.. mksh y..

Report · 1:58pm

lebih baik lo jadian lg za ma anggie, biar dy gak traoma seumur hidupnya

Report · 2:01pm

iy.. w g twu.. klw slma niey trnyta lw jg sayang sma dy.. w akn cb plan” bwd rbah dy..

Report · 2:02pm

ya udh kalo lo mau rbh dy, lo jadian lg aja ma dy.

dy kan cinta mati bgt ma lo.

buktinya dy ga mau ngerubah

atau ngebuka hatinya lg

yg ada dfkrn dy cuma TRAUMA

Report · 2:03pm

smua btuh waktu.. g scpat it..

Report · 2:04pm

ya udh itu terserah lo ma dy

gw udh ga perduli lg

cukup gw disakiti kaya bgni

Report · 2:04pm

lw msh mnghrapkn dy..?? w akn cba bntu klw lw mwu..

Report · 2:05pm

tp alhmdl gw yg disakiti ma dy, but bukan gw yg nyakiti dy

gw ga perlu bantuan lo, yg ada dy kfkrn lo terus donk,

gw cm mau dy yg berusaha sendiri tanpa perantara orng lain, apalagi lo masa lalu dy

Report · 2:07pm

yudh.. mdh”n hti’a trbka bwd lw..

Report · 2:07pm

yaaa….,kita liat aja nanti.

Report · 2:08pm

y..

ternyata dugaan qu benar, dy masih sayang ma  mantannya, qu benar” gak da peluang sedikit pun dihatinya.

apa salah qu anggie?

kamu tega bgt permainin hati qu seperti ini.

qu bener” kecewa dan sakit hati bgt.

klo qu boleh memilih, aqu gak mo kenal sama kamu..

kamu tidak ada bedanya dengan mantan” qu, malahan kamu lebih parah dari mantan qu.

AQU BENCI KAMU ANGGIE PRASETYA.

Tips

Kawat Gigi

Memperbaiki Posisi Gigi


Gigi “berantakan” yang seringkali membuat Anda merasa rendah diri atau malu, sebenarnya bukan masalah lagi. Karena, dengan pemakaian kawat gigi yang tepat, bukan mustahil gigi Anda akan berderet secara teratur.

Sebenarnya, perawatan dengan kawat gigi lebih dikenal dengan istilah ortodonsi. Perawatan ortodonsi ini biasanya dikerjakan oleh dokter gigi yang telah mengikuti jenjang pendidikan tambahan atau keahlian yang khusus yang dikenal dengan sebutan ortodontis.

Hingga kini banyak kelainan di dalam mulut yang memerlukan perawatan ortodonsi. Ada kelainan yang “mengganggu” wajah, sehingga profil atau penampilan wajah seseorang menjadi kurang menarik. Misalnya, giginya tonggos (gigi pada rahang atas menonjol keluar) dan “cameh” (gigi pada rahang bawah yang menonjol keluar).

Bisa Lepasan, Bisa Cekat

Perawatan ortodonsi yang telah lama dikenal adalah pemakaian alat ortodonsi lepasan, yaitu dapat dilepas atau dibuka sendiri oleh si pemakai. Namun, seiring dengan berkembangnya ilmu dan teknologi kedokteran gigi, alat ortodonsi cekat yang dipakai secara terus-menerus sampai perawatan selesailah yang paling populer pada saat ini.

Umumnya, perawatan dengan alat cekat mempergunakan cincin (band) yang dipasang pada gigi geraham dengan bahan perekat (semen). Lalu, terdapat pula “braket” yang menempel pada gigi-gigi yang akan diperbaiki, dan kawat gigi yang secara periodik akan diganti, sehingga memungkinkan terjadinya pergerakan letak posisi yang diinginkan.

Kapan Mulainya?

Secara umum, perawatan ortodonsi tidak mengenal batasan usia. Begitu terlihat ada kelainan letak dan susunan gigi, sebaiknya perawatan segera dilakukan. Akan lebih baik lagi bila perawatan dilakukan sedini mungkin.

Jangan lupa perawatan Pasca

Lamanya perwatan ortodonsi cekat biasanya berlangsung selama 2 tahun dengan syarat keadaan gigi dan jaringan sekitar dalam kondisi sehat. Selama perawatan ortodonsi, biasanya setiap sebulan sekali akan dikontrol kondisi kawat gigi si pasien. Pada saat control tersebut, ortodonsi akan meriksa kemajuan pergerakat gigi dan melihat kemungkinan adanya kerusakan atau lepasnya alat cekat tersebut. Umumnya, akan dilakukan penggantian kawat atau pemasangan karet penarik untuk mengkondisikan tekanan pada gigi yang akan digeser atau ditarik.

Selama pemakaina alat ortodonsi ini, tidak ada pantangan khusus. Misalnya, anak bebas makan apa pun, sehingga pertumbuhan dan perkembangan fisiknya tidak akan terganggu. Akan tetapi, akan lebih baik lagi bila ia juga menghindari makanan yang lengket, mudah melekat seperti dodol, permen karet, dan sebagainya. Jenis makanan ini bisa mengganggu proses pergerakan gigi.

Yang penting diingat adalah kebersihan dan kesehatan gigi harus tetap terjaga.

Tidak harus selamanya

Setelah gigi-geligi menempati posisi yang diinginkan, dapat dikatakan bahwa masa perawatan aktif telah selesai. Selanjutnya gigi pada kedudukannya yang baru tersebut harus dipertahankan dengan cara menggunakan alat lepasan (retainer). Alat ini bisa berupa lepasan ataupun yang sifatnya cekat.

Jadi, sampai kapan pasien harus memakai alat lepasan ini?

Semua ini tergantung pada si pasien sendiri. Bila ia selalu menjaga kesehatan mulutnya, seperti tidak makan makanan yang keras, kebiasaan ini akan memungkinkan terjadinya pergerakan gigi. Kalau sudah begini, ia boleh melepaskan alat tersebut.

Tips

17 tips dandan buat si hitam !


  1. 1. Foundation
  • Pilih foundation yang sesuai dengan warna kulit. Foundation warna gelap memang masih jarang dijual, tetapi tetap ada di pasaran.
  • Untuk mengetahui warna foundation yang pas, oleskan saja langsung pada bagian bawah pipi kita.
  • Cobakah foundation di bawah sinar lampu yang terang dan berwarna putih menyerupai cahaya matahari, untuk mendapatkan warna yang alami.
  • Tidak boleh memakai foundation dengan warna yang lebih terang dari warna kulit. Dengan harapan kulit kita terlihat lebih putih. Akibatnya, wajah kita seperti memakai topeng, dan rasannya juga tidak terlihat alami.
  • Tidak boleh mencoba foundation pada punggung tangan. Karena warna tangan berbeda dengan warna kulit wajah.
  1. 2. Bedak
  • Pilih bedak yang satu tone dengan warna kulit kita.
  • Pilih bedak warna kecoklatan atau bronze buat party malam hari. Supaya kulit kita tampak cerah dan alami.
  • Tidak boleh memilih bedak yang warnanya lebih terang dari warna kulit.

  1. 3. Eye shadow
  • Supaya kulit kita tambah cerah, gunakan warna-warna eye shadow bernuansa cerah. Seperti : pink, kuning, biru langit, hijau tosca, dan coklat.
  • Untuk kesan natural, pilih eyeshadow warna kecoklatan.
  • Tidak boleh memakai warna-warna eye shadow yang buat kulit kita tambah kusam, seperti : abu-abu, ungu, hijau lumut, dan navy blue.

  1. 4. Blush on
  • Blush on yang paling oke buat si kulit hitam adalah warna pink dan peach.
  • Tidak boleh blush on warna kecoklatan tidak akan tampak kulit kita, karena warnanya senada. Bahkan membuat wajah kita terlihat kusam.

  1. 5. Lipstik
  • Semakin gelap warna kulit kita, maka semakin gelap pula warna lipstiknya. Tetapi untuk tampil batural, pilih warna coklat atau caramel.
  • Lipstik warna pink bisa juga matc sama kulit kita. Tapi pilih yang warna fuchia atau pink tua.
  • Buat tampil di party, warna bronze, keemasan, atau merah oke juga.
  • Hindari lipstik warna ungu, dan warna orange bata supaya tidak terlihat kusam.

Tips

Siap Tempur Ujian


Meskipun hati sudah tidak sabar buat libur panjang, kita tetap mesti ngelewati yang satu ini dulu : UJIAN ! Wah, harus belajar sungguh-sunguh biar kita bisa mendapatkan nilai yang memuaskan.

Tapi, belajar saja tidak cukup lho buat berperang melakukan ujian. Masih banyak hal kecil lain yang terkadang lupa dari perhatian kita tapi sebenarnya mesti kita siapkan. Ini dia daftar perlengkapan perang yang mesti kita siapkan pas UJIAN !

1. Seperangkat alat tulis komplet

Senjata yang wajib kita punya saat ujian, selain otak kita yang penuh dengan hasil belajar semalam adalah alat tulis. Tapi, alat tulis yang kita bawa pun tidak boleh sembarangan. Harus lengkap dan sesuai dengan keperluan ujian.

Selain pensil 2B, penghapus yang bersih, rautan pensil, dan pulpen, kita juga bisa membeli penggaris pembulat khusus untuk ujian. Penggaris ini bakal memudahkan kita untuk menghitamkan bulatan kecil dan menjaga agar goresan tidak keluar dari bulatan. Tidak mau dong, gagal ujian hanya karena jawaban kita tidak terbaca komputer?

Don’t forget! Siapkan semua alat tulis ini paling lambat sehari sebelum ujian. Jadi, kita tidak perlu heboh mencari alat tulis sebelum berangkat sekolah atau ke kampus atau bahkan terpaksa minjam teman sebangku saat ujian. Kita sadari atau tidak, kesiapan alat tulis juga membantu kita siap secara mental menghadapi ujian.

2. Selembar sapu tangan

Ujian adalah situasi yang gampang bikin kita stress dan panik. Kalau stress dan panik, tubuh kita jadi lebih mudah berkeringat. Padahal kan kertas ujian komputer tidak bisa terbaca kalau terkena keringat?

Gawat dong! Makanya, kita perlu saputangan untuk mengelap tangan kita yang berkeringat.

Don’t forget! Letakkan saputangan itu di bawah lengan sebelah kanan kita saat menulis. Dengan begini, kita mencegah setetes keringat pun jatuh ke lembar jawaban kita.

3. Sebuah jam tangan

Waktu adalah hal penting lain yang terkadang kita lupakan. Terlena sama satu soal bikin kita tidak kehilangan banyak waktu dan tidak bisa menyelesaikan semua soal. Sayang banget, kan? Itulah kenapa kita butuh jam tangan. Kita jadi bisa lebih teliti mempergunakan waktu karena tahu sisa waktu yang ada, dan berapa banyak waktu yang sudah dipakai buat mengerjakan satu soal.

Don’t forget! Untuk mengatur waktu sesuai dengan jam dinding di dalam kelas atau jam milik pengawas. Supaya perhitungannya tepat. Jangan dipercepat, karena malah bisa buat kita nervous.

4. Sekotak ketelitian

Kita memang tidak mungkin membeli sekotak ketelitian di mana pun, tapi bukan berarti tidak bisa mendapatkannya. Karena, ketelitian itu sebenarnya sudah ada dalam diri kita, hanya butuh sedikit usaha buat mengeluarkannya. Saat ujian, kita mesti menyisakan sedikit waktu (kurang lebih 10 menit) untuk memeriksa kembali semua hasil pekerjaan kita.

Don’t forget! Beberapa hal yang mesti kita teliti lagi adalah penulisan nama, kode soal, jawaban kita dan tentu saja bulatan-bulatan hitam tersebut. Kalau sudah oke semua, barulah kita bisa bernapas lega.

5. Setumpuk percaya diri

Kepercayaan diri juga salah satu faktor penting saat ujian. Karena, sebagian besar soal ujian berupa pilihan ganda. Kalau tidak pede dengan kemampuan kita, pasti akan bingung atau ragu dengan jawaban sendiri. Untuk memupuk rasa pe-de tersebut, kita mesti banyak belajar dan membaca dari berbagai sumber. Dengan begitu, kita jadi makin mantap menjawab soal karena yakin mana jawaban yang benar.

Don’t forget! Pupuk kepercayaan diri kita dengan doa. Penting banget, tuh! Selain membuat kita tenang, memang Cuma Yang Maha Kuasa yang bisa membuat semuanya jadi lancar.

Cerpen (BENCI)

BENCI

Aku sedang minum es jeruk di hadapanku ketika tiba-tiba seorang cowok menghempaskan tubuhnya di bangku kantin yang keras itu. Ia meringis kesakitan sesaat, namun segera melupakan rasa sakit itu dan mendekatkan wajahnya ke wajahku.

“Gimana Daniel?” ia bertanya tiba-tiba, suaranya setengah berbisik.

“Gimana apanya?” aku bertanya balik setelah mengambil gorengan yang ada di hadapanku dan menyuapkan ke mulut.

“Lo ngerti apa yang gue maksud, soal semalem.” Ia bertanya tanpa membesarkan volume suaranya.

“Hemahem ahaha? Halo homong hang helas hong!”

Cowok itu merebut gorengan yang ada dalam genggaman tanganku dan segera mengulurkan gelas es jeruk padaku.

“Makanya kalau mau ngomong, ngomong aja dulu. Kalau mau makan, ya makan aja. Mana gorengannya panas, lagi”.

Segera kuminum es jeruk itu dan memandangnya. “Lagian lo juga sih tanya gak jelas, tentang Daniel-lah, tentang semalemlah. Emangnya kenapa semalem?”

“Ya ampun!” dia menepuk jidatnya kemudian segera menyentuh dahiku. “Lo gak sakit kan, hari ini? Masa lupa sama kejadian extra penting yang terjadi tadi malem. Akhirnya penantian lo”.

Aku masih tetap memasang wajah polos yang sudah terlatih bertahun-tahun, sengaja memancing emosinya. “Udah deh, gak usah pura-pura gak tau gitu. Ceritakan sama gue, jam berapa lo jadiannya?”

“Oh itu, siapa bilang gue jadian sama Daniel?”

“Hah? Gak jadian gimana? Lo bilang Daniel nembak lo, terus apa lagi?”

Aku diam. Apa harus ku jawab pertanyaan itu, Lex? Apa semuanya masih kurang jelas untuk kamu? Apa kamu gak lihat penantian yang sudah kulakukan selama ini? Apa aku harus mengungkapkannya ke kamu sekarang? Kalau aku menolak Daniel karena mengharapkan kamu, kamu yang bisa jadi cowok pertamaku. Ya, aku sayang kamu, Alex Augusto Wijaya. Dan untuk itu aku harus melukai perasaan cowok sebaik Daniel yang hanya bisa bilang ‘Oh gue ngerti’ waktu aku ceritakan semua ini ke dia.

Alex mengibaskan tangannya di hadapanku. “Hoiii….. dibilangin kok ngelamun, kenapa? Dia nyakitin kamu ya? Atau dia bohong ke kamu?”

“Hei, yang bilang Daniel boong ke gue tuh sapa?”

“Dia gak boongin kamu?” aku menggeleng. “Terus kenapa kamu tolak dia? Dia kan cowok baik, cakep juga lumayan.” Alex mendekatkan wajahnya dan berbisik, ”Banyak loh, yang ngefans sama Daniel.”

Aku tertawa, yah Daniel emang baik, terlalu baik mungkin. Kadang ada rasa bersalah di hatiku karena telah mengecewakannya, tapi toh cinta gak bisa dipaksa.

“Oii Alex, lo mau ikutan main basket gak?”

Dimas berteriak dari lapangan basket. Daniel dengan bola di tangannya menatap kami berdua dan tersenyum. Sorry Dan.

Okey I’m coming”. Buru-buru Alex bangkit dan segera minum es jerukku”. Pokoknya entar gue butuh semua penjelasan lo okey?” ia segera beranjak menuju lapangan basket. Di pinggir lapangan basket kulihat kerumunan anak sedang mengerumuni seseorang, siapa lagi kalau bukan Rachel. Cewek blasteran yang baru masuk dua bulan ke sekolahan ini. Dan hebatnya, dalam waktu segitu dia langsung melambung namanya.

“Karin.. Karin! Hei…” Alex setengah berlari berusaha mensejajari langkahku.

“Entar sore gue mau traktir lo, sekalian ada yang mau gue tau dan yang mau gue kasih tau ke lo. Jam empat ya, ntar gue jemput lo”.

“Eh tunggu dulu”. Aku berusaha mencegah Alex tapi ia sudah hampir menghilang di koridor. “Lo mau ngomong apa Lex?” teriakku sebelum dia benar-benar menghilang.

Sorenya, di sebuah bukit kecil yang menghadap teluk tempat kota kami berdiri, Alex dan Aku sedang duduk di tempat rahasia kami. Bukit itu terletak tak jauh dari pusat kota, banyak bunga yang tumbuh di sekitar bukit. Dan yang paling menakjubkan adalah pemandangan yang dapat ditampilkan bukit itu sore hari.

Alex membentangkan sebuah tikar piknik dan menggelar berbagai cemilan, mulai dari jagung bakar, kentang goreng, kripik kentang pedas, kacang asin, gorengan sampai martabrak, dan tidak lupa soft drink dan air mineral. Aku kaget melihatnya.

“Lo gimana sih Lex, katanya tadi lo mau traktir gue, eh sekarang malah ngajakin piknik sore-sore”.

“Lah ini kan gue traktir lo, lo pikir semua cemilan itu buat siapa, lo tau kan gue gak terlalu suka makanan penuh lemak kaya gitu?

Ooops iya.. iya! Gue emang cinta berat juga sama tuh makanan, tapi lo tau sekarang tanggal berapa kan? Gue lagi cekak nih, duit gue udah gak ada lagi, lo harap maklum dong”.

“Sekarang kan baru tanggal 16 Lex, biasanya lo bisa nabung dari sisa uang jajan lo”. Tanyaku bingung sambil mulai membuka berbagai bungkus cemilan yang ada.

“Justru itu yang mau gue omongin”.

Aku memasukkan sepotong kentang pedas dan menatapnya. “So, maksud lo ini semua akhirnya dari UANG lo nih?”

“Bukan gitu…”

“Ya terus apa dong?” tantangku.

“Gimana gue mau cerita kalau lo nyela terus?”

“Ok, lanjutkan deh”.

“Jangan nyela duluya?”

“Yupz”.

“Ok, gini. Lo tau Rachel kan?

Itu lo anak baru itu, nah, menurut lo orangnya tuh gimana?

Baik gak?

Cantik gak?

Aku kehilangan konsentrasi. Rachel, cewek blasteran itu ternyata telah memikat hati Alex. Alex yang selama ini dikenal dingin sama cewek, kecuali gue. Alex yang selama ini dikenal sebagai cowok paling cool, paling punya banyak penggemar karena gayanya yang cool and senyumnya yang manis. Alex yang selama ini hanya kumiliki sendiri sehingga banyak cewek yang iri padaku, Alex yang………

“Rin, Karin… gimana pendapat lo?” guncangan Alex di bahuku.

“Hah? Eh apa? Anu tapi tadi lo bilang gue gak boleh nyela, kan?” aku berusaha menyembunyikan galauku dengan meraih sebotol soft drink.

“Tapi gue kan tanya sama lo, jadi sekarang lo boleh nyela, eh salah jawab.”

“Ehm gimana ya?” aku bingung, habis pertanyaannya tadi apa ya?

“Gimana apanya?” duh klasik banget deh.

“Menurut lo sendiri bagaimana?” aku balik tanya untuk memancing pertanyaannya tadi, habis aku ngelamun sih.

“Yah ni anak! Gue tanya, dianya balik tanya juga. Kalau gue tau gimana seharusnya gue bertindak, gue gak perlu tanya lo, dong. Kalau lo jadi gue, apa lo bakal tagih tuh duit gue yang dipinjam sama si Rachel?”

Duit? Oh itu toh masalahnya, Rachel minjem duit ke Alex, bukannya Alex jadian sama si Rachel. Dasar otak gue nih, seharusnya gue lebih nyimak apa yang diomongin sama Alex, bukan melamun yang bukan-bukan.

“Ehm gimana ya Lex, menurut gue tuh anak berani banget pinjem duit sama lo, padahal dia juga anak baru di sini.”

“Buka dia yang minta kok Rin, abis dia bilang nyokapnya lagi sakit dan dia butuh tuh duit buat biaya mereka hidup. Hasil kerjanya di restoran gak cukup untuk biaya rumah sakit.

Terus akhirnya dia cerita juga kalau bokapnya udah pulang ninggalin nyokapnya di sini. Jadi dia harus kerja buat bantu nyokapnya buat biaya sekolah, dan sekarang nyokapnya sakit, dia jadi gak punya duit. Nah gue yang akhirnya menawarkan uang tabungan gue buat pinjam sama tuh cewek. Tapi sekarang Mama mau minjam duit tabungan gue. Mama bilang ntar awal bulan dia bakal balikin tuh duit, tapi masalahnya sekarang di mana coba gue dapetin tabungan gue yang sudah berkurang itu, selama ini nyokap selalu serius masalah uang.”

“Emang berapa yang dipinjam Rachel?”

“Gak sampe separuh tabungan gue sih, hanya dua juta.”

“Apa dua juta?”

“Gila lo lex, duit segitu banyak berani lo kasih pinjam sama orang yang baru lo kenal? Kalau dia tuh penipu gimana? Sekarang mendingan lo tagih tuh duit.”

“Tapi Rin.”

“Apa lagi?”

“Gue rasa gue jatuh cinta sama tuh cewek.” Oh oh aku pasti salah dengar lagi.

“Habis dia tuh mandiri banget, dia kuat, tegar, tabah, punya sisi kepribadian yang unik banget dan dia juga pintar. Dia benar-benar istimewa Rin, dan gue tahu kalau gue bener-bener fall in love with her.”

And you know Lex? Gue juga bener-bener kehilangan kata-kata sekarang. Kenapa sih semua yang lo suka dari Rachel gak ada yang nyantol satu pun sama gue? Ugh, sekarang gue bener-bener benci sama diri gue, kenapa ya gue tolak Daniel kemarin? Ugh!…….

Di persimpangan cinta dan persahabatan

Ketika itu sabtu yang cerah seperti biasa menyelimuti perasaan Dika yang memang sudah penat dengan suasana kampus dan semua yang berhubungan dengannya. Seperti biasa Dika memanfaatkan waktunya di lab untuk berselancar di dunia maya, saat itu dia sedang membuka Facebook yang kebetulan sudah lama tidak di cek. Kira-kira baru setahun Dika aktif di Facebook tapi ternyata dia sadar bahwa friendlist baru dipenuhi orang-orang yang notabene belum dikenal secara fisik, dia baru sadar kalau di friendlist nya belum dipenuhi teman-teman lamanya khususnya teman di SMA. Akhirnya, satu per satu dia meng-add teman-teman lamanya. Di Tab lain pada Mozilla-nya, Ari sahabatnya mengajak untuk menggagas reuni SMA dengan menulis di wall facebook Dika.

“Cuy, kita bikin reunian yuk udah lama nie nggak ketemu anak-anak, untuk kepanitian entar kita omongin sama anak-anak deh yang penting kita ketemuan dulu”

“Gw cih udah contact-contactan sama Nia tentang teknisnya gimana, gimana klo kita ketemuan nanti sore di Boqer??” begitu isi wall Ari.

Lalu Dika membalas “OK, lo atur aja soal kepanitiaan entar kita omongin lagi.”

“Hmm kira-kira jam 4 lewat  gw ke Boqer coz gw masih ada kuliah sampe jam 2” balas Dika di wall Ari.

Setelah kira-kira jam 3 sore Dika selesai kuliah dan langsung menuju Boqer untuk menemui Ari yang kebetulan saat itu ditemani Nia. Dika terkejut karena dia mengenal Nia di SMA hanya sebatas tau saja dan Nia itu adalah pacar dari teman sekelasnya Dani dan Dika sangat tau bagaimana mesranya Nia dan Dani di waktu SMA dulu. Yang lebih mengejutkan lagi ternyata Nia itu adalah sobat terdekat dari orang yang sangat disukai oleh Dika yaitu Ika. Sontak saja Dika merasa dibangkitkan lagi masa-masa di SMA yang dulu pernah menorehkan kenangan yang pahit maupun manis bagi dirinya.

Jam menunjukkan pukul 16.00, Dika pun sampai di XXI dan sudah ditunggu oleh Ari dan Nia di depan gerbang. Tanpa berlama-lama Dika langsung menyalami Ari sahabatnya begitu erat karena memang sudah tidak bertemu lumayan lama karena kesibukan kuliah masing-masing dan tidak lupa menyalami Nia yang dulu tidak dikenal dengan baik oleh Dika tiba-tiba memberikan kesan yang baik kepada dirinya.

Nia pun mengajak Ari dan Dika untuk belanja makanan untuk di bioskop nanti dan berkata “Belanja yuk, ntar kelaparan lagi di studio, hahaha..”

Tapi berhubung Ari ingin ke toilet akhirnya hanya Nia dan Dika berdua menuju supermarket yang letaknya satu lantai di bawah Bioskop. Sepanjang perjalanan mereka menanyakan kabar masing-masing, dimulai dengan Dika bertanya pada Nia.

“Apa kabar nih kemana aja nggak pernah kelihatan?”

Dan Nia pun menjawab “Gw ada aja kok, Dika tuh yg kemana aja kata si Ari Dika susah banget diajak ngumpul.”

Lalu Dika mengalihkan pertanyaan ke Nia  “Hmmm denger-denger katanya Nia udah putus ya sama Dani??”

“Emang bener??”

Nia menjawab ”Iya Dik emang gw dah putus sama dia sekitar 3 bulan yang lalu.”

Dika bertanya lagi “Loh, kok bisa cih?? Padahal kan Dika lihat Nia dan Dani kayaknya cocok banget. Udah gitu Nia sama Dani kan bukan setahun dua tahun pacaran, dari SMA sampai Kuliah malahan, eh kok sekarang dah putus sih??”

Nia menjawab lagi ”tau lah dik, bukan jodoh kali” Jawab Nia dengan perasaan kecewa.

Nia berkata lagi “udah ah dik jangan dibahas lagi mending ngomongin yg lain aja, oya Ika katanya mau ikut gabung kita juga neh”.

Dan tanpa sepengetahuan Dika ternyata Nia juga mengajak Ika untuk bergabung karena Nia dan Ika adalah sahabat semenjak di SMA sampai sekarang, mendengar bahwa Ika akan ikut juga nonton bareng sebelum diskusi tentang reuni langsung saja Dika menyeringitkan dahinya seolah tak percaya bahwa “Love Wanna Be” nya akan bertemu dengannya setelah sekian lama berpisah.

Jam menunjukkan pukul 16.15 akhirnya Ika sampai juga di XXI, Dika lalu bersalaman dengan Ika dan dalam hatinya berkata “ternyata dia nggak berubah, masih cantik”, memori itu semakin menusuk perasaan itu dan Dika pun sempat terdiam sesaat melihat kenyataan bahwa Ika ternyata sudah memiliki pasangan dan kabarnya akan menikah.

15 menit berlalu akhirnya mereka berempat masuk ke studio 1 untuk menonton film, posisi duduk mereka kebetulan berpasangan jadi seolah-olah sudah saling berpasangan.

Sepanjang film mereka selalu berinterkasi dengan sesekali bercanda. Waktu berlalu dan menunjukkan pukul 18.15 akhirnya film itu selesai, dan mereka pun segera keluar dan di sela-sela perjalanan Ika berkata “Dika apa kabar?? Jarang keliatan.”

Lalu Dika menjawab “Ooohhhh, kenapa??” Dika menjawab dengan bingung karena selalu memandangi Ika sepanjang perjalanan.

Tibtiba Ari berkata “woy, bengong aja lo ditanyain tuh ma Ika kabar lo gimana??”

Dika langsung bereaksi dan berkata kepada Ika “Oh, gw baik-baik aja kok dan masih kaya  dulu nggak ada yg berubah, hmm Ika sendiri gimana??”

Ika menjawab “sama kok baik-baik aja”.

Di sepanjang sudut mal mereka berjalan sambil melihat-lihat barang-baranf yang terpajang di sekitar mal tersebut. Ika dan Nia berjalan berdua sedangkan Ari dan Dika berjalan di belakang mereka seolah-olah mereka adalah pacar Ika dan Nia.

Dan setelah hampir 10 menit berjalan di semua sudut mal akhirnya Ika berpamitan untuk pulang karena pacarnya menelepon dan sudah menunggu di parkiran mobil mal. Akhirnya Ari, Dika, dan Nia mengantarkan Ika ke parkiran mobil untuk menemui pacarnya. Ika pun berpamitan kepada mereka bertiga dan setelah itu mereka bertiga kembali masuk ke mal untuk membicarakan tentang reuni yang akan digagas.

Akhirnya mereka bertiga bergegas menuju sebuah kafe untuk diskusi tentang reuni tersebut sambil ditemani segelas minuman dingin dan kudapan.

Perbincangan antara ketiganya berjalan menarik karena pertemuan itu adalah pertama kalinya sejak berpisah dari SMA, sesekali mereka curhat mengenai kehidupan pribadi mereka dan masing-masing mendengarkan sehingga tanpa terasa satu jam telah berlalu berlalu.

Dika dengan tanpa sadar melihat Nia berbeda dari biasanya dan sepertinya ada perasaan suka tapi dia tidak buru-buru menyatakannya karena dia juga tau jika Nia baru putus dari pacarnya yang notabene teman sekelasnya di waktu SMA.

Setelah melakukan perbincangan sekitar 1 jam akhirnya kepanitiaan dibentuk dengan Ari sebagai ketuanya, Dika sebagai Seksi Acara dan Publikasi, dan Nia sebagai Bendahara. Waktu menunjukkan pukul 19.40 tiba-tiba timbul ide dari ketiganya untuk kembali menonton film dan tanpa basa-basi mereka langsung memesan tiket yang kebetulan filmnya akan segera ditayangkan pukul 19.50, pada saat kedua kalinya menonton Nia diapit oleh Dika dan Ari dan ketiganya bahkan lebih intim dan tanpa rasa malu saling melemparkan candaan karena merasa sudah dekat dan suasana memang sudah cair.

Pukul 21.45 akhirnya mereka keluar dari XXI dan segera menuju pulang ke rumah. Nia dan Dika bersama di satu motor karena Nia tidak membawa kendaraan, sedangkan Ari sendiri mengikuti di belakangnya.

Akhirnya malam itu gerimis dan untungnya sudah mendekati rumah Nia yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan mal.

Sampai juga di depan rumah Nia dan dia berkata “Sorry ya dah ngerepotin, kalian ga mampir dulu??”

Ari dan Dika menjawab ”terima kasih deh, nggak baik bertamu malam-malam, lagian sebentar lagi hujan, jadi kami harus buru-buru.”

Nia kembali menjawab “Ohh gitu ya, kalau begitu makasih ya buat hari ini, gw seneng banget hari ini bisa ketemuan dan jalan-jalan bareng temen-teman lama gw. Hati-hati ya di jalan.”

Lalu Ari dan Dika memacu kendaraannya masing-masing bergegas pulang.

Pukul 23.05 Dika sampai di rumah dan tiba-tiba dia menerima SMS dan betapa terkejut dan bahagianya dia bahwa yang mengirimnya adalah Nia.

Bunyi sms itu “Hei Dik, dah nyampe blum?? Sorry ya padahal tadi kalian mampir aja dulu minum teh atau ngopi. Btw, thanks ya buat hari ini gw nggak akan ngelupakan ini.”

Dika me-reply sms dari Nia dengan isi sms “Alhamdulillah dah nyampe dan nggak kehujanan. Ooh, tidak apa-apa kok lagian kan tadi gw dah bilang kalau bertamu malam-malam itu nggak baik, udah begitu udah mau hujan lagi, jadi mending kita buru-buru saja. Oh ya sama-sama gw juga makasih banget buat hari ini”.

Disinilah kisah ini berawal.

Dika diam-diam secara tidak sadar menyukai Nia yang dulu di SMA tidak dikenalnya secara fisik hanya sebatas tau saja, tetapi sekarang seiring kesendirian Nia maka Dika bisa lebih intens melakukan komunikasi dengannya.

Minggu 2 Juli 2009, waktu menunjukkan pukul 7 Dika mengirim pesan ke Nia “Hei,bangun donk…hehehe, pa kabar nie?? Hmm hari ini ada rencana kemana??”

Setengah jam berlalu Nia membalas sms dari Dika “masih ngantuk nie, hehehehe hhmm kayaknya hari ini di rumah aja”.

Hari demi hari hubungan mereka berdua semakin dekat tapi sekali lagi Dika belum berani mengungkapkannya kepada Nia bahwa dia menyukainya, saling berbalas sms maupun wall-wall di facebook sering mereka lakukan bahkan setelah berjalan cukup lama Dika merasa sudah sangat dekat dan tidak ragu memanggil Nia bukan kamu atau lo lagi tetapi sudah memanggil memakai namanya.

Banyak hal yang Dika lakukan sebagai bentuk perhatiannya kepada Nia seperti membuat video slide yang berisi foto-foto Nia yang di downloadnya dari facebook milik Nia, lalu memberikan bantuan sebisa mungkin kepada Nia kebanyakan mengenai komputer karena Dika memang bisa dibilang tahu banyak tentang komputer.

Dari mulai mencarikan lagu-lagu, instalasi software sampai mencarikan request ayah Nia yang minta dicarikan lagu daerah Jogja. Semua itu dilakukan Dika sebatas ingin memberikan kesan yang baik kepada Nia.

Akhirnya pada sutau ketika Nia minta diantar ke rumah temannya dan kebetulan Dika sedang tidak ada kelas dan akhirnya Nia menghubungi Dika “Dik, bisa anterin gw nggka ke rumah temen gw??”

Dan Dika pun menjawab “ohh, bisa emangnya mau kemana?oya Nia sekarang dimana??”

Nia menjawab ”gw di rumah dik, bisa jemput nggak coz motor lagi dipake bokap”

Lalu Dika menjawab lagi ”ok, tunggu ya setengah jam lagi Dika sampe kok ke rumah Nia, tunggu ya!!”.

Selain bermaksud mengantar Nia ternyata diam-diam Dika telah menyiapkan CD yang berisi video slide yang dia buat untuk Nia dan memberikan kado kecil karena adik Nia sedang berulang tahun.

Setelah pergi ke rumah temannya dan mengobrol sebentar di kafe, pulanglah mereka berdua ke rumah Nia dan di tengah perjalanan Nia berujar ”makasih ya dik, untung ada lo…”

Dika menjawab “ah biasa aja kali, lagi kebetulan aja nggak ada kuliah.”

Sesampainya di rumah Nia mengajak untuk mampir sebentar, tetapi Dika menolak secara halus dan beralasan bahwa dia masih ada pekerjaan. Tapi sebelum memasuki rumah, Dika menghampiri Nia dan berkata “oya, nie buat Nia, yang ini buat adenya ya”

Dika memberi CD yang dibungkus sedemikian rupa dan bungkus kado kecil untuk adik Nia.

Lalu Nia bertanya “apa ini dik?? Ngerepotin ahh”

Dika menjawab “ahh nggak apa-apa kok, Cuma iseng-iseng aja, entar aja ya dibukanya.”

Dika pun bergegas pulang dan berharap Nia membuka CD itu dan memutarnya agar Nia bisa tahu kalau Dika menyayangi dia. Di dalam video slide itu, Dika memberikan sajian berupa foto-foto Nia dan diselingi ungkapan-ungkapan cinta yang bernada kasih sayang dan cinta.

Berharap mendapat respon tentang video itu, sampai malam tiba Dika belum mendapat respon itu. Karena tidak sabar, Dika langsung menanyakan tanggapan Nia tentang video yang telah dibuatnya.

”Gimana, udah ditonton videonya??”

Nia membalas ”oh, udah kok bagus banget videonya gw suka banget.”

Mungkin karena Nia sudah tau maksud dari Dika maka secara halus Nia berkata “Dik, gw makasih banget lo dah bikinin itu buat gw dan gw seneng banget punya sahabat baik kaya lo, hmm sebenernya aga susah sih ngomongnya tapi gw lebih seneng lo jadi sahabat gw dan gw nggak mau kehilangan sahabat baik kaya lo.”

Lalu Dika dengan perasaan yang mengahru biru menjawab “ohh, gw ngerti kok gpp lagi nyantai aja”.

Hari berlalu, pertemuan Dika dengan Nia mulai berkurang. Nia merasa bahwa ada yang berubah semenjak dia memberikan pernyataan itu kepada Dika.

Tapi Nia berbaik sangka dulu mungkin Dika sedang sibuk atau apa lah.

Seminggu kemudian akan ada pertemuan panitia reuni Ari dan Dika pergi ke sekolah dan di sekolah, Nia menunggu sendirian. Akhirnya tiba pada pembicaraan seputar reuni seperti biasanya Dika berusaha bersikap seperti ketika bertemu Nia pertama kali walaupun sebenarnya secara tidak langsung dia ditolak oleh Nia.

Ada suatu pemandangan yang cukup mengherankan Dika yaitu Nia dan Ari terlihat seperti akrab dan hampir tiada sekat di antara mereka, Dika mulai curiga kepada Ari. Pertemuan itupun menghasilkan keputusan bahwa jadwal rapat reuni diadakan tiap minggu.

Sebelum pulang ternyata Nia mengajak untuk makan bareng. Ari dan Dika menyanggupi, satu lagi pemandangan yang dilihat Dika bahwa Nia lebih memilih bersama Ari dibanding Dika, dan puncaknya saat di kafe tanpa disengaja atau tidak mereka duduk bersebelahan karena memang kebetulan kafe sedang penuh.

Saat pulang, Ari menyembunyikan sesuatu dari Dika, dan Dika berpikir bahwa Ari akan mampir ke rumah Nia. Karena rasa ingin tau akhirnya Dika secara memaksa agar ikut pula ke rumah Nia dan sesampainya di rumah Nia ternyata Ari sangat dekat dengan adik Nia dan itu membuat Dika semakin yakin bahwa ada sesuatu diantara mereka. Namun karena tidak ingin terburu-buru menanyakan hal itu.

Dika mulai mengamati tingkah laku mereka berdua dan Dika sekali lagi berusaha menjadi “pengacau” agar mereka tidak terlalu dekat.

Pukul 21.00 akhirnya Dika dan Ari pulang, Nia terlihat berbeda ketika Ari ingin pulang seperti terkesan dekat sekali. Sesampainya di rumah, Dika langsung mengutarakan perasaannya dan curhat kepada Ari bahwa dia memendam perasaan kepada Nia. Awalnya, Ari tidak menjawab sms dari Dika dan seperti ada yang ditutupi darinya, tapi perlahan Ari merespon dengan jawaban yang kurang pasti seperti “oh gitu ya, hmmm, dan Ok”.

Akhirnya, setelah hampir seminggu Ari mengatakan bahwa dia sudah dekat dengan Nia sekitar 2 bulan setelah putus dari Dani, Ari bercerita bahwa dia dijadikan tempat curhat dan pemberi nasihat oleh Nia.

Dika mulai merasakan Deja Vu, pada saat SMA pun Ari terkesan seperti TMT dengan menjalin hubungan dengan Ika yang notabene disukai Dika walaupun memang Ika ternyata menyukai Ari. Dika mulai gelisah, sedih dan trauma kejadian di SMA akan terulang lagi, Ari juga bilang kalauo Nia merasa bahwa Ari telah menyelamatkannya dari keterpurukan akibat putus dari Dani setelah menjalin hubungan 6 tahun.

Untuk itulah Nia mulai mengagumi Ari, Ari juga sebenarnya menyukai Nia. Tetapi karena Dika sudah terlanjur berkata bahwa dia menyukai Nia maka Ari pun mulai mengendurkan niatnya untuk lebih serius dengan Nia karena takut melukai perasaan Dika.

Setelah semuanya terkuak, Dika mulai menghindar dan mengasingkan diri dari Nia n Ari karena takut akan trauma masa SMA dulu terjadi lagi. Dika menghilang cukup lama sehingga membuat Ari n Nia bingung karena mereka juga tak bisa membohongi perasaan klo mereka saling suka. Rapat reuni sudah 2 kali Dika absen karena berbagai alasan dan memang untuk menghindari Ari n Nia. Semakin panas karena Dika menumpahkan segala kesedihannya ke dalam tulisan,puisi dan status bernada kesedihan serta menyindir Ari dengan “TMT, Persahabatan atau Cinta, dan Arti Sahabat”….merasa gerah dengan apa yang dilakukan Dika, Ari pun menanyakan Dika mengapa dia melakukan itu. Dika menjawab dengan diplomatis itu hanya ungkapan saja dan tidak bermaksud menyindir siapapun.

Bahkan Nia pun menanggapinya dengan nada menyindir bahwa dia berteman dengan orang gila. Tentu saja Dika semakin hancur dan menantang Ari untuk membeberkannya secara gamblang. Sabtu pukul 18.05 Ari mengirim pesan ke Dika “Cuy, kenapa cih lo ngomong gitu??”

Dika membalas “kenapa lo?? Merasa kesindir??”

Ari menjawab lagi “Cuy, mendingan kita ketemuan yuk dan kita omongin sama-sama!!”

Dika menjawab lagi “ngapain, nggak penting urusin aja tuh Nia lo ntar dia marah lagi!!!”

karena Ari merasa kalau kejadian ini mirip seperti waktu di SMA ketika itu pula Dika menghilang dari kehidupan Ari dan memilih berjalan sendiri karena Ari telah “merebut” Ika darinya dan Ari pun merasakan betapa kehilangan Dika pada saat itu maka Ari berkata “Cuy, klo keadaannya gini gw juga ga tau harus gimana lagi, Nia bilang klo dia cuma anggap lo sahabatnya” Dika menjawab “gw dah tau kok, udah ga usah ngurusin gw lagi…buang-buang waktu lo aja ngurusin orang kaya gw, sekarang gw mau jalanin kehidupan gw yang normal lagi”

Ari dengan nada memohon berkata “Cuy, klo gw punya salah please maafin gw karena gw nggak mau kehilangan lo lagi untuk kedua kalinya…lo sahabat gw dari kecil sampai sekarang..klo perlu gw sujud di hadapan lo deh supaya gw dimaafin ma lo, please cuy gw nggak mau kaya gini!!”

Dika menjawab ”emangnya gw Tuhan, pakai sujud-sujud ke gw!! Dah kok gw baik-baik aja, dah klo emang lo benar-benar menginginkan dia lo lanjutin aja gw cih gampang…nggak usah mikirin gw, dan perlu dicatat ya gw tetep sahabat lo kok apapun yg terjadi”

Ari menjawab lagi “ Tetep aja gw bisa,,,klo begini kejadiannya gw mendingan lebih milih lo daripada dia”…..

Dika pun tetap pada pendiriannya untuk menghindar dulu dari Ari dan Nia, banyak yang dilakukan Dika setelah rahasia itu terungkap. Dika menghubungi Fitri salah satu sobatnya di SMA dan merupakan tiga sobat yaitu Ari, Dika dan Fitri…fitri selalu menjadi tempat berkeluh kesah dan pendengar yang baik.

Panjang lebar Dika menceritakan kepada Fitri dan meminta pendapat tentang “pelarian” Dika untuk tidak berhubungan dengan Ari dan Nia. Fitri pun memberikan tanggapan yang nadanya mendukung Dika “Hmmm,susah juga ya. Kasian juga lo Dik disalip mulu ma Ari..hahahaha sorry becanda..menurut gw cih itu tergantung keputusan Ari, tapi klo gw jadi Ari gw pasti akan memilih lo karena gw nggak mau nyakitin sahabat gw untuk yang kedua kalinya…pokonya tenang aja gw pasti akan selalu mendukung lo…ntar biar gw yang ngomong ma Ari dan Nia.

Sekarang lo berusaha biasa aja sama Nia toh klo emang dia jodoh buat lo nggak akan kemana” begitu isi message Fitri di FB. Setelah mendapat saran dari Fitri, Dika mulai menata kembali hubungan dengan Ari dan Nia walaupun itu berjalan alot dan penuh liku.

Selama proses berjalan, Dika baru tau ternyata Ari masih menjalani hubungan dengan Vina sahabatnya sewaktu di SD. Ini membuat Dika semakin ingin tau tentang apa yang dilakukan Ari.

Usut punya usut ternyata Ari sedang mengalami krisis hubungan dengan Vina dan karena itulah Ari berpaling ke Nia. Akhirnya dengan dalih menyelamatkan Vina maka Dika memberi tahu yang sebenarnya terjadi, di sini Dika bertindak untuk dirinya dan sahabatnya Vina yang sudah menjalin hubungan dengan Ari selama setahun.

Waktu berjalan, Vina “melabrak” Nia bahwa jangan menggangu hubungan orang dan akibatnya Ari dan Nia menjaga jarak dulu. Dika sempat bertanya apakah dia sudah putus dengan Vina dan dia menjawab “sebenarnya gw dah mau putus ma dia, tapi Vina ngancem mau bunuh diri…makanya gw bingung cuy” tapi dia pernah bilang klo dia sudah putus…dan parahnya lagi Nia mengetahui Ari sudah putus dari Vina dan karena itulah Nia berani menjalin hubungan dengan Ari.

Tujuan Dika semakin jelas yaitu menyelematkan Vina dan juga mencegah hubungan Ari dan Nia berlanjut….karena berbagai alasan maka Ari dan Nia mulai menjauh dan hubungan dengan Vina semakin membaik.

Ada perasaan senang sekaligus sedih karena di sisi lain Dika senang karena hubungan Nia dan Ari menjadi buruk, tetapi kabar baiknya bahwa hubungan Vina semakin membaik dengan Ari karena Vina sudah mau memperbaiki kesalahannya dan berjanji akan menjadi lebih baik lagi.

Sabtu malam Dika berkunjung ke rumah Ari. Awalnya ada perasaan yang mengganjal, tetapi lama kelamaan suasana menjadi cair karena masalah yang dulu tersembunyi kini telah terungkap.

Dika dan Ari saling bermaafan atas kesalahan mereka masing-masing. Dan bersamaan dengan itu Ari mengungkapkan yang sebenarnya terjadi antara dia dan Nia setelah kejadian itu berlangsung.

Ari berujar bahwa hubungan dia dengan Nia nggak akan pernah berlanjut, bukan karena alasan tentang Dika atau masalah dengan Vina tetapi karena Nia pernah berkata bahwa orang tuanya sudah mendorongnya untuk menikah sedangkan Ari sendiri masih mengawali karirnya di perusahaan farmasi dan itu membuat Ari mengurungkan niatnya karena belum siap secara mental dan materi, tetapi ada satu hal lagi yang dikatakan Ari bahwa ada hal yang tidak bisa ditolerir Ari dari Nia sebagai laki-laki dia tidak bisa menerimanya dan hal itu yang dikatakan Nia kepada Ari untuk kelanjutan hubungan mereka tapi ternyata Ari tidak sanggup menerimanya.

Dika menanyakan hal tersebut tetapi Ari sudah berjanji untuk tidak mengatakannya kepada siapapun.

Saat itu pula Ari merasa dirinya lah yang bersalah karena terlalu memaksakan kehendak dan berterimakasih kepada Dika karena telah menyelamatkan cintanya, persahabatannya dan juga hidupnya.

Tetapi walaupun sudah tidak menjalin hubungan yang serius lagi dengan Nia tetapi Ari dan Dika tetap bersikap biasa seperti saat pertama kali bertemu dan bahkan sekarang menjadi sahabat.

Mereka semakin akrab bahkan saat Nia memperkenalkan pacarnya, Ari dan Dika terlihat bahagia melihat Nia sangat menikmati kehidupannya sekarang. Ari, Dika, dan Nia menyadari bahwa kasih sayang memang terkadang tak harus memiliki seutuhnya dan itu bisa terjadi kepada siapa saja termasuk kepada sahabat. Dan sesekali saat mereka berkumpul, mereka selalu ingin tertawa mengingat-ingat kemelut yang pernah terjadi kepada mereka tetapi karena pengertian dan kasih sayang akhirnya mereka menemukan kebahagiaan mereka walaupun harus melalui cara yang tak terduga seperti itu.

Kehidupan mereka berlanjut seperti biasanya berkumpul untuk sekedar makan bareng atau karaoke. Mereka pun sukses menyelenggarakan reunian di sekolah mereka.

Kenangan Terindah

“Belaaaaaaaaaaaaaaaaa!”

Mama menggedor pintu kamarku dengan kencang, mencoba mengalahkan suara music rock yang sengaja kupasangkan keras-keras. Aku merengut dan membuka pintu yang terkunci.

“Kenapa, Ma?” Tanyaku malas sambil menjulurkan kepala ke balik pintu.

Mama menerobos masuk dan mematikan CD-player di sudut ruangan. “Berisik amat, sih? Kuping kamu gak sakit ya?” omel mama.

Aku menekuk mukaku lebih dalam lagi. Yap, perfect! Nggak tau apa orang lagi bete berat? Ini malah ikutan diomelin, lagi! Urrggghh..

Mama melihat wajahku sambil geleng-geleng kepala. “Dari tadi Anggun nelpon, tuh! Udah tujuh kali. Katanya HP kamu off yah?” mama memunguti bekas-bekas bungkus cokelat di atas meja, “Kenapa sih? Lagi berantem yah?”

Aku menghempaskan tubuh ke atas tempat tidur. “Apaan sih, Mama? Suka sok tau deh!”

Mama kembali geleng-geleng kepala. Ia duduk disebelahku dan mengelus rambutku dengan penuh kasih. “Ya udah, kalau bete jangan kelamaan. Kamu sama Anggun kan udah temenan selama tujuh tahun”.

“Delapan,” koreksiku cepat.

“Ya, delapan tahun kan bukan waktu yang singkat. Memangnya apa sih masalahnya?” mama masih saja berusaha mengorek info dariku. Mungkin mama lagi cari bahan gosip kalau nanti telpon-telponan dengan Tante Ria, mamanya Anggun. Ya, karena aku dan Anggun sudah bersahabat sekian lama, mama dan Tante Ria pun jadi ikut temenan.

Aaaahh.. Sudahlah, aku lagi nggak mood untuk ngebahas tentang Anggun. Malas. Jadi teringat akan kejadian itu….

Aku membuat mama kembali geleng-geleng kepala, kali ini sambil mengambil nafas panjang. “Ya udah, mama mau nonton TV dulu,” katanya sambil beranjak, “Kamu kalau mau menyendiri dulu gak pa-pa, nanti kalau Anggun telpon lagi, mama akan bilang kamu lagi tidur. Tapi inget, nyetel musiknya jangan kenceng-kenceng! Nanti mama diomelin sama tetangga.”

Aku mengunci pintu segera setelah mama keluar, kemudian merebahkan diriku di atas kasur. Ternyata bete itu capek juga. Bener kata Anggun, marah itu perlu banyak energi… Duh! Tuh, kan, lagi-lagi kepikiran Anggun! Udah, ah, bete!

Tadi siang, disekolah Bela berjalan cepat menuju kelas, mencoba mencari Anggun untuk mengajaknya pulang bareng. Rumahnya dan rumah Anggun yang tidak terlalu jauh jaraknya membuat mereka selalu berangkat dan pulang bareng. Itu pulalah yang menjadi awal keakraban mereka delapan tahun yang lalu, saat mereka duduk di kelas empat SD. Bela dan Anggun yang sekelas tidak sengaja ketemu di halte saat sedang menunggu angkutan umum. Semenjak itulah mereka jadi sering bersama, layaknya sepasang saudara kembar, meskipun wajah mereka tak terlalu mirip. Anggun lebih cantik, namun Bela lebih pandai. Itu yang membuat mereka saling mengagumi satu sama lain.

Di depan kelas, Bela terpaku. Keadaan kelas memang lengang, namun di sebuah bangku di barisan depan duduklah. Rio, si anak baru pindahan dari Bandung yang keren abis itu. Ia sedang duduk santai sambil mendengarkan musik dan membaca komik. Bela merasa kaku. Tiba-tiba saja tangan dan kakinya jadi panas dingin dan jantungnya terdegup semakin kencang.

Rio memang keren abis! Ganteng lagi.

Bela mencoba mengatur napas sambil terus memperthatikan keajaiban yang kini duduk beberapa meter di depannya itu. Dengan ragu ia melangkah dan bersiap menyapa Rio yang sudah tiga bulan ini selalu mengisi relung hatinya.

Namun, tiba-tiba, wajah Rio terangkat dan tersenyum, membuat Bela terpaku ditempat berdiri.

“Anggun…” bisik Rio.

Bela bengong. Apa Rio yang salah ngomong atau telinganya yang salah dengar ya? Tadi rasanya Rio menyebutkan nama Anggun.

“Makasih CD-nya, ya, Non. Oya, Sabtu jadi nonton, kan?” Tanya Rio.

Anggun mengangguk pelan, “Insyah Allah, jadi.”

Rio memamerkan senyumnya sebelum melangkah ke luar kelas, meninggalkan Bela dan Anggun berdua.

Bela memandang Anggun tak percaya. Nggak mungkin! Selama tiga bulan ini Bela rutin curhat ke Anggun bahwa dirinya jatuh cinta sama Rio, tapi.. barusan ia baru saja memergoki Anggun memberi sebuah CD kepada Rio dan janjian nge-date berdua. Hari Sabtu, pula, malem Minggu lagi! Uuurrgghhh………

Anggun tersenyum polos dan menggandeng tangan Bela, “Pulang sekarang, Bel?”

Bela menghempaskan tangan Anggun dan menampar pipinya, sebelum menjauh pergi dengan wajah merah karena menahan amarah yang memuncak di ubun-ubunnya.

Keesokan harinya. Bela melangkah kesal kearah kelas. Tak seperti biasanya, pagi ini ia datang pagi-pagi sekali untuk menghindari kemungkinan bertemu Anggun di halte. Suasana kelas masih lengang, Bela memanfaatkan waktu yang tersisa sebelum bel sekolah berbunyi untuk menyelesaikan PR fisikanya. Tadi malam ia terlalu penat untuk bisa mengerjakan PR.

Lagi asyik mengerjakan PR, seseorang duduk disebelahnya.

Bela tak terlalu memperhatikan karena ia terlalu sibuk mengerjakan PR-nya segera mungkin. Namun sapaan itu akhirnya menarik perhatiannya.

“Bel, kamu nggak bareng Anggun?”

Tubuh Bela mengejang. Rio. Rio yang ganteng itu duduk disebelahnya! Tapi kemudian ia segera tersadar, barusan Rio menanyakan Anggun.

Bela menjawab malas, “Nggak, kenapa?”

Rio menyodorkan sebuah CD, “Ini CD punya Anggun, gue nitip yah!”

Bela mengerutkan kening sambil melirik CD di atas mejanya, “Damien Rice?”

Rio mengangguk dengan semangat, “Iya, hari ini Ratih, cewek gue, ulatah. Makanya gue pinjem CD Anggun untuk ngopi track Blower’s Daughter. Ratih suka banget sama lagu itu.”

Bela mencoba menyerap semua pernyataan barusan. What Rio…? Rio udah punya cewek? siapa tadi.. Ratih? Lalu, kemari… bukannya Rio jelas-jelas ngajak Anggun nge-date?

“Rio,” Bela menahan Rio yang siap beranjak dari tempat duduknya, “Kemarin, kalau gak salah, lo ngomong soal nonton ya sama Anggun?”

Rio mengangguk, “Yup. Itu loh, Sabtu ini kan anak-anak sekelas pada mau nonton bareng. lo ikut juga kan?”

Bela hanya bisa melongo. Jadi……..?!

Sebuah SMS masuk ke HP Bela.

“Bel, Anggun kecelakaan! Buruan ke RS. Gue tunggu! –Nindy”.

Bela langsung panik. Tanpa pikir panjang ia segera mengambil tasnya di atas meja dan melesat menuju rumah sakit.

Sebuah tetes air mata jatuh membasahi pipi yang kaku dan memutih itu. Pipi yang sama yang telah Bela tampar kemarin sore.

Bela menutup mulutnya tak percaya, mencoba menahan terikan histerisnya.

Perlahan, ia susuri wajah yang selama delapan tahun ini telah memancarkan kehangatan, senyum yang tulus, dan tawa ceria. Kini, wajah itu terlihat dingin.

Begitu… tenang.

Bela mengusap rambut panjangnya Anggun yang indah. Terdapat segumpal darah beku di sana, di atas sebuah jahitan panjang di dahi itu, namun Bela tak peduli. Ia memeluk tubuh itu untuk terakhir kalinya dan membisikkan kata maaf dalam tangis di telinga sahabatnya yang telah pergi untuk selamanya.

Nindy sedang berjalan menuju halte saat mendengar keributan itu. Seorang anak SMA terpelanting karena tertabrak bus ketika menyebrang sambil bengong, begitu kata warga sekitar. Kepalanya menabrak keras aspal, dahinya robek, dan ia pun meninggal seketika. Seorang bapak-bapak sempat mengatakan bahwa anak itu sempat menggumamkan sebuah nama. Bela.

Bela kembali terisak. Ia keluar dari kamar yang dingin itu dan merosotkan badannya di sebuah pilar. Sayup terdengar sebuah lagu dari sebuah kamar tak jauh dari sana.

Bela menutup matanya rapat, mencoba menghilangkan semua perasaan bersalah yang berkecamuk di hatinya.

Bela menangis lagi, kini dalam sunyi.

Kita memang tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi.

Kini, Bela hanya bisa meratap.

Sahabat terbaiknya telah pergi meninggalkannya. Namun, ia akan tetap tinggal di dalam hati Bela sebagai sebuah kenangan.

Cerpen (LIBURAN)

Liburan

Liburan semakin dekat, tapi Tika, Kiki dan Dewi belum juga memutuskan untuk pergi ke mana atau melakukan apa saat liburan nanti. Apalagi liburan mendatang adalah liburan akhir semester yang cukup panjang, nggak mungkin dilalui dengn begitu saja.

“Perlu perencanaan yang matang, biar nggak menyesal belakangan.” Begitu kata Tika selalu.

Masalnya, baik Tika, Kiki dan Dewi punya ide sendiri-sendiri tentang cara menghabiskan liburan yang menyenangkan.

Menurut Tika, “Liburan ya liburan kegiatannya harus sesuatu yang benar-benar berbeda dari pada yang iasa kita lakukan sehari-hari, lokasinya juga brda biar begitu selesai liburan kita jadi fresh untuk menjalani rutinitas sehari-hari.”

Menurut Dewi, “Liburan  harus yang bisa menghasilkan, supaya semester depannya bisa liburan lagi. Dan itu berarti harus bisa menemukan kegiatan mencari penghasilan yang menyenangkan, biar menjalaninya juga asyik.”

Menurut Kiki, “Liburan itu benar-benar berhenti berkegiatan. Nggak melakukan apa-apa. Tiduur seharian, misalnya.”

“Sangat tidak produktif,” kata Dewi mengomentari ide Kiki.

“Lho namanya juga liburan. Segalanya berarti mesti libur dong…” jawab Kiki membela diri. “Masa libur-libur kerja, cari penghasilan.. itu namanya nggak punya sense of liburan!”

“Itu namanya liburan produktif, sambil menyelam minum air,” jawab Dewi.

Tika mengangkat bahunya. “Kalau gue yang penting liburan mesti bisa bikin fresh. Kalau kerja bisa bikin lo jadi fresh sih jalanin aja…”

“Ih, mana ada kerja bikin orang jadi fresh. Jadi stress, barangkali…” potong Kiki.

“Yah, maaf deh, gue pemalas, “kata Kiki sambil menguap. “Jadi jangan suruh gue kerja pas liburan..”

“Tapi, kita kan mau menghabiskan liburan bareng-bareng. Gimana sih?” Tanya Dewi kesal.

“Jangan sedih, kita tetap bisa liburan bareng dan tetap melakukan hal-hal yang kita sukai,” sahut Tika, santai. “Yang penting perencanaan, Jeng.. seperti gue selalu bilang.”

“Ah, kebanyakan rencana jangan Cuma satu,” kata Tika. “Mesti punya plan b, plan c, plan d..”

“Bikin plan melulu kapan liburannya?”

“Tenang Jeng, dimana ada keinginan, pasti aka nada jalan..” kata Tika memenangkan. “Beda itu biasa, namanya juga kita punya kepala yang berbeda..”

“Jadi kita mau kemana nih?”

“Kita mau ngapain?” potong Dewi.

Tika mengibaskan tangannya. “Mau ke mana, atau ngapain, yang penting tujuannya tercapai.”

“Jadi yang penting tujuan?”

“Ya iya dong! Makanya kita perlu bikin rencana. Prosesnya boleh gimana aja, yang penting tujuannya tercapai.”

Kiki mengeluarkan notesnya dan mulai mencatat tujuan liburan mereka masing-masing, kemudian menyimpulkan, “Jadi.. kita perlu perencanaan liburan yang bisa membuat kita santai, sambil melakukan hal-hal belum pernah kita lakukan sehari-hari, sekaligus bisa menghasiklan!”

“Apakah kita akan ke Bali?” Kiki bertanya.

“Kalau lo Cuma mau tidur-tiduran aja, ngapain mesti beli tiket untuk ke Bali,” jawab Tika. “Jadi mungkin nggak perlu ke Bali.” Kiki cemberut.

“Lagian ke Bali kan mahal!” potong Dewi.

“Jadi dalam kota aja?”

“Dalam kota juga seru. Why not?” sahut Tika.

“Piknik ke manaaaa… dalam kota kan sudah kita jelajah sampai tuntas. Lagian rutinitas kita sehari-hari juga di dalam kota aja,” protes Dewi. “Dan yang paling penting, kalau Cuma dalam kota, gimana caranya gue mendapatkan penghasilan?”

“Kita bisa mendapatkan semunya. Kita bisa piknik, santai-santai, sekaligus dapat duit,” kata Tika sambil tersenyum.

“Kenapa kita nggak bikin tur dalam kota? Kita ajak orang-orang yang dari daerah atau dari dalam kota untuk menyulusuri tempat-tempat seru yang nggak biasa mereka datangi. Seperti tur ke tempat bersejarah di Jakarta? Turk e Kepulauan Seribu, atau wisata kuliner… dengan begitu kita bisa melakukan sesuatu yang berbeda, santai-santai, sekaligus mendapatkan uang!”

“Wow..” Dewi langsung bersemangat.

“Gue setuju banget! Siapa tahu kita bisa jadi pengusaha travel nantinya!”

“Kenapa nggak!” sahut Tika ikut bersemangat. “We have to start some where!”

Bahkan Kiki tampak bersemangat. “Gimana dengan tur belanja? Mendatangi tempat-tempat menarik untuk shopping mulai dari pasar grosir, distro, sampai pasar baju second!”

“Yeah! Kenapa nggak!” sahut Tika. “Lo bisa tetep santai-santai, gue bisa punya kegiatan seru yang berbeda, dan kita tetap bisa punya penghasilan!”

“Ini bisa jadi liburan kita terhebat!”

“Makanya kita perlu bikin rencana.” sahut Tika sambil mengedipkan matanya.

Kalau Ku Boleh Memilih

Septi tersenyum kecut begitu membuka tudung saji. Di meja makan hanya ada tempe goreng. Tahu goreng, telur balado di tambah oseng-oseng kangkung. Dari hari kehari begitu saja menu yang ada. Kalau ku boleh memilih…

“Aduh, De! Pamali ngomong seperti itu, kamu harus bersyukur bisa makan seperti ini. Masih banyak orang yang lebih prihatin dari kita. Kalau mau melihat kehidupan jangan ke atas, tetapi lihat ke bawah. Dengan begitu hidup ini terasa ringan. Kita jadi penuh rasa syukur. Pokoknya…..”

Ceramah mama bisa panjang sekali. Tidak usah pakai teks deh, seperti pembawa berita di tv. Pokoknya nyerocos terus tidak ada putus-putusnya.

Septi memang hidup dalam keluarga sederhana. Namanya juga sederhana, ya, semuanya serba di sederhana. Tidak boleh punya keinginan yang muluk-muluk. Bahkan handpone-pun menjadi barang yang mewah buat Septi.

“Hari gini, nggak punya handpone?” ledek Dina, teman sebangkunya. Hatinya panas, seperti terbakar api.

“Ade Septi, Mama bisa membelikan kamu handpone. Tapi Mama kan harus memberikan kamu uang lebih untuk membeli pulsa.”

Iya iya. Pokoknya semua omongan Mama benar adanya. Septi pun hanya bisa cemberut. Kalau ku boleh memilih…

Sore hari hujan turun rintik-rintik. Udara tersa dingin menusuk tulang. Mama datang membawa pisang goreng dan singkong goreng. Septi langsung mengambil pisang goreng.

“Hati-hati masih panas!”

“Kalau hujan begini, gado-gado Mama sepi pembeli, ya?”

“Ya, begitulah. Septi, Mama punya ide, nih! Bagaimana kalau kamu bawa nasi uduk sama gorengan ke sekolah?”

Bagai mendengar halilintar, Septi kaget campur takut.

“Kenapa? Malu?” tanya Mama.

Septi diam seribu bahasa. Jantung Septi berdetak dengan cepat.

“Tidak, aku tidak malu. Aku lebih malu kalau hanya bisa minta sama Mama,” jawab Septi lantang. Sepertinya dia merasa tertantang dengan pertanyaan Mama tadi. Padahal hatinnya ketar-ketir.

“Itu baru anak Mama. Pokoknya, ada bagian deh buat tenaga pemasaran.” Mama terlihat semangat sekali. Tinggal Septi yang jadi kebingungan.

Besok paginya, ketika Septi bangun, Mama sudah siap dengan dagangan yang mau dibawa Septi.

“Tidak usah bawa banyak-banyak dulu. Cuma lima bungkus, gorengannya sepuluh. Tawarkan kepada teman dekat dulu!”

“Oke, Mama!” Septi sok semangat.

Padahal kalau ku boleh memilih…..

Jadilah hari itu Septi berangkat lebih pagi. Berharap temannya yang belum sarapan tidak pergi ke kantin. Kelas masih kosong ketika Septi datang. Tidak lama kemudian temannya datang satu per satu. Jantung Septi berdetak lebih cepat, dia siap menawarkan dagangannya.

“Din, sudah sarapan?” tanya Septi pada teman sebangkunya.

“Belum. Yuk, ke kantin!”

“Jangan! Aku jual nasi uduk, nih. Murah, Cuma duaribu limaratus rupiah.”

“Dari tadi donk ngomong. Eh, anak-anak, ada nasi uduk, nih!” teriak Dina.

Gorengannya pun sudah habis terjual. Semudah itu? Septi tidak percaya dia dengan mudah melewati semua.

“Yaaa.. aku tidak kebagian? Besok bawa yang banyak, ya!” pesan Rina yang datang lebih siang. Septi mengangguk pasti.

Besok Mama menambah jumlah dagangannya. Rasa malu Septi perlahan hilang begitu saja. Yang ada di kepalanya hanyalah bonus dari Mama. Masakan Mama emang yahud! Sambalnya yang super hot, dan cepat akrab di lidah teman-teman. Belum seminggu, anak kelas sebelah pun itukan membeli dagangannya Septi, termasuk Heri. Sudah lama Septi menaruh hati pada cowok keren dan manis itu.

Suatu pagi, tanpa sengaja Septi berpapasan dengan Heri di pintu gerbang. Heri langsung membawa kantung dagangannya Septi. Ayah yang mengantar Septi tersenyum penuh arti.

“Jangan Heri! Aku bisa sendiri kok!” Septi tidak enak hati , malu dilihat teman-teman yang lain.

“Tdak apa-apa, biasa saja kali!” jawab Heri enteng.

“Aduh, aku jadi tidak enak nih!” saat mereka beradu pandang, ada rasa hangat didada Septi.

“Aku bangga lho sama kamu!”

Biasa aja kali!”

“Kamu bukan cewek yang biasa, Septi!” Septi jadi salah tingkah, apalagi mereka berjalan bareng.

“Ceila! Ada gosip baru nih!” teriak Dani begitu mereka masuk kelas.

“Biasa aja kali!” jawab mereka kompak, Heri mengantar sampai bangkunya.

“Terima kasih ya!” ucap Septi tulus.

“Romantis banget,” bisik Dani.

“Apanya yang romantis?”

“Kalian sudah jadian, ya?”

Ih, dasar Dani. Mau tau saja urusan orang. Septi hanya tersenyum hangat.

Ah, sekarang aku tahu harus memilih apa.

Aku ingin tetap jadi anak Mama. Mama yang sederhana dengan pemikiran yang sederhana pula. Tapi itu justru yang membuat aku belajar memahami hidup.

Terima kasih Mama, bisik hati Septi.

Gambar 2 Tugas 1

TUGAS 1

Coba kalian kritisi karikatur tersebut berdasarkan penalaran kalian. Ungkapkan apa yang ingin disampaikan oleh si pembuat karikatur tersebut !

Menurut saya gambar karikatur yang diatas ini menceritakan tentang jeritan suara rakyat kecil yang kehidupan ekonominya serba kekurangan. Dimana mereka merasa kecewa dengan kondisi perekonomian yang semakin hari semakin menyiksa rakyat kecil. Yang mengakibatkan rakyat kecil semakin menderita dengan keadaan harga kebutuhan pokok melambung tinggi (sembako) sedangkan penghasilan mereka tidak mencukupin untuk menghidupin keluarga mereka sehari-hari.