BENCI

Aku sedang minum es jeruk di hadapanku ketika tiba-tiba seorang cowok menghempaskan tubuhnya di bangku kantin yang keras itu. Ia meringis kesakitan sesaat, namun segera melupakan rasa sakit itu dan mendekatkan wajahnya ke wajahku.

“Gimana Daniel?” ia bertanya tiba-tiba, suaranya setengah berbisik.

“Gimana apanya?” aku bertanya balik setelah mengambil gorengan yang ada di hadapanku dan menyuapkan ke mulut.

“Lo ngerti apa yang gue maksud, soal semalem.” Ia bertanya tanpa membesarkan volume suaranya.

“Hemahem ahaha? Halo homong hang helas hong!”

Cowok itu merebut gorengan yang ada dalam genggaman tanganku dan segera mengulurkan gelas es jeruk padaku.

“Makanya kalau mau ngomong, ngomong aja dulu. Kalau mau makan, ya makan aja. Mana gorengannya panas, lagi”.

Segera kuminum es jeruk itu dan memandangnya. “Lagian lo juga sih tanya gak jelas, tentang Daniel-lah, tentang semalemlah. Emangnya kenapa semalem?”

“Ya ampun!” dia menepuk jidatnya kemudian segera menyentuh dahiku. “Lo gak sakit kan, hari ini? Masa lupa sama kejadian extra penting yang terjadi tadi malem. Akhirnya penantian lo”.

Aku masih tetap memasang wajah polos yang sudah terlatih bertahun-tahun, sengaja memancing emosinya. “Udah deh, gak usah pura-pura gak tau gitu. Ceritakan sama gue, jam berapa lo jadiannya?”

“Oh itu, siapa bilang gue jadian sama Daniel?”

“Hah? Gak jadian gimana? Lo bilang Daniel nembak lo, terus apa lagi?”

Aku diam. Apa harus ku jawab pertanyaan itu, Lex? Apa semuanya masih kurang jelas untuk kamu? Apa kamu gak lihat penantian yang sudah kulakukan selama ini? Apa aku harus mengungkapkannya ke kamu sekarang? Kalau aku menolak Daniel karena mengharapkan kamu, kamu yang bisa jadi cowok pertamaku. Ya, aku sayang kamu, Alex Augusto Wijaya. Dan untuk itu aku harus melukai perasaan cowok sebaik Daniel yang hanya bisa bilang ‘Oh gue ngerti’ waktu aku ceritakan semua ini ke dia.

Alex mengibaskan tangannya di hadapanku. “Hoiii….. dibilangin kok ngelamun, kenapa? Dia nyakitin kamu ya? Atau dia bohong ke kamu?”

“Hei, yang bilang Daniel boong ke gue tuh sapa?”

“Dia gak boongin kamu?” aku menggeleng. “Terus kenapa kamu tolak dia? Dia kan cowok baik, cakep juga lumayan.” Alex mendekatkan wajahnya dan berbisik, ”Banyak loh, yang ngefans sama Daniel.”

Aku tertawa, yah Daniel emang baik, terlalu baik mungkin. Kadang ada rasa bersalah di hatiku karena telah mengecewakannya, tapi toh cinta gak bisa dipaksa.

“Oii Alex, lo mau ikutan main basket gak?”

Dimas berteriak dari lapangan basket. Daniel dengan bola di tangannya menatap kami berdua dan tersenyum. Sorry Dan.

Okey I’m coming”. Buru-buru Alex bangkit dan segera minum es jerukku”. Pokoknya entar gue butuh semua penjelasan lo okey?” ia segera beranjak menuju lapangan basket. Di pinggir lapangan basket kulihat kerumunan anak sedang mengerumuni seseorang, siapa lagi kalau bukan Rachel. Cewek blasteran yang baru masuk dua bulan ke sekolahan ini. Dan hebatnya, dalam waktu segitu dia langsung melambung namanya.

“Karin.. Karin! Hei…” Alex setengah berlari berusaha mensejajari langkahku.

“Entar sore gue mau traktir lo, sekalian ada yang mau gue tau dan yang mau gue kasih tau ke lo. Jam empat ya, ntar gue jemput lo”.

“Eh tunggu dulu”. Aku berusaha mencegah Alex tapi ia sudah hampir menghilang di koridor. “Lo mau ngomong apa Lex?” teriakku sebelum dia benar-benar menghilang.

Sorenya, di sebuah bukit kecil yang menghadap teluk tempat kota kami berdiri, Alex dan Aku sedang duduk di tempat rahasia kami. Bukit itu terletak tak jauh dari pusat kota, banyak bunga yang tumbuh di sekitar bukit. Dan yang paling menakjubkan adalah pemandangan yang dapat ditampilkan bukit itu sore hari.

Alex membentangkan sebuah tikar piknik dan menggelar berbagai cemilan, mulai dari jagung bakar, kentang goreng, kripik kentang pedas, kacang asin, gorengan sampai martabrak, dan tidak lupa soft drink dan air mineral. Aku kaget melihatnya.

“Lo gimana sih Lex, katanya tadi lo mau traktir gue, eh sekarang malah ngajakin piknik sore-sore”.

“Lah ini kan gue traktir lo, lo pikir semua cemilan itu buat siapa, lo tau kan gue gak terlalu suka makanan penuh lemak kaya gitu?

Ooops iya.. iya! Gue emang cinta berat juga sama tuh makanan, tapi lo tau sekarang tanggal berapa kan? Gue lagi cekak nih, duit gue udah gak ada lagi, lo harap maklum dong”.

“Sekarang kan baru tanggal 16 Lex, biasanya lo bisa nabung dari sisa uang jajan lo”. Tanyaku bingung sambil mulai membuka berbagai bungkus cemilan yang ada.

“Justru itu yang mau gue omongin”.

Aku memasukkan sepotong kentang pedas dan menatapnya. “So, maksud lo ini semua akhirnya dari UANG lo nih?”

“Bukan gitu…”

“Ya terus apa dong?” tantangku.

“Gimana gue mau cerita kalau lo nyela terus?”

“Ok, lanjutkan deh”.

“Jangan nyela duluya?”

“Yupz”.

“Ok, gini. Lo tau Rachel kan?

Itu lo anak baru itu, nah, menurut lo orangnya tuh gimana?

Baik gak?

Cantik gak?

Aku kehilangan konsentrasi. Rachel, cewek blasteran itu ternyata telah memikat hati Alex. Alex yang selama ini dikenal dingin sama cewek, kecuali gue. Alex yang selama ini dikenal sebagai cowok paling cool, paling punya banyak penggemar karena gayanya yang cool and senyumnya yang manis. Alex yang selama ini hanya kumiliki sendiri sehingga banyak cewek yang iri padaku, Alex yang………

“Rin, Karin… gimana pendapat lo?” guncangan Alex di bahuku.

“Hah? Eh apa? Anu tapi tadi lo bilang gue gak boleh nyela, kan?” aku berusaha menyembunyikan galauku dengan meraih sebotol soft drink.

“Tapi gue kan tanya sama lo, jadi sekarang lo boleh nyela, eh salah jawab.”

“Ehm gimana ya?” aku bingung, habis pertanyaannya tadi apa ya?

“Gimana apanya?” duh klasik banget deh.

“Menurut lo sendiri bagaimana?” aku balik tanya untuk memancing pertanyaannya tadi, habis aku ngelamun sih.

“Yah ni anak! Gue tanya, dianya balik tanya juga. Kalau gue tau gimana seharusnya gue bertindak, gue gak perlu tanya lo, dong. Kalau lo jadi gue, apa lo bakal tagih tuh duit gue yang dipinjam sama si Rachel?”

Duit? Oh itu toh masalahnya, Rachel minjem duit ke Alex, bukannya Alex jadian sama si Rachel. Dasar otak gue nih, seharusnya gue lebih nyimak apa yang diomongin sama Alex, bukan melamun yang bukan-bukan.

“Ehm gimana ya Lex, menurut gue tuh anak berani banget pinjem duit sama lo, padahal dia juga anak baru di sini.”

“Buka dia yang minta kok Rin, abis dia bilang nyokapnya lagi sakit dan dia butuh tuh duit buat biaya mereka hidup. Hasil kerjanya di restoran gak cukup untuk biaya rumah sakit.

Terus akhirnya dia cerita juga kalau bokapnya udah pulang ninggalin nyokapnya di sini. Jadi dia harus kerja buat bantu nyokapnya buat biaya sekolah, dan sekarang nyokapnya sakit, dia jadi gak punya duit. Nah gue yang akhirnya menawarkan uang tabungan gue buat pinjam sama tuh cewek. Tapi sekarang Mama mau minjam duit tabungan gue. Mama bilang ntar awal bulan dia bakal balikin tuh duit, tapi masalahnya sekarang di mana coba gue dapetin tabungan gue yang sudah berkurang itu, selama ini nyokap selalu serius masalah uang.”

“Emang berapa yang dipinjam Rachel?”

“Gak sampe separuh tabungan gue sih, hanya dua juta.”

“Apa dua juta?”

“Gila lo lex, duit segitu banyak berani lo kasih pinjam sama orang yang baru lo kenal? Kalau dia tuh penipu gimana? Sekarang mendingan lo tagih tuh duit.”

“Tapi Rin.”

“Apa lagi?”

“Gue rasa gue jatuh cinta sama tuh cewek.” Oh oh aku pasti salah dengar lagi.

“Habis dia tuh mandiri banget, dia kuat, tegar, tabah, punya sisi kepribadian yang unik banget dan dia juga pintar. Dia benar-benar istimewa Rin, dan gue tahu kalau gue bener-bener fall in love with her.”

And you know Lex? Gue juga bener-bener kehilangan kata-kata sekarang. Kenapa sih semua yang lo suka dari Rachel gak ada yang nyantol satu pun sama gue? Ugh, sekarang gue bener-bener benci sama diri gue, kenapa ya gue tolak Daniel kemarin? Ugh!…….