Kenangan Terindah

“Belaaaaaaaaaaaaaaaaa!”

Mama menggedor pintu kamarku dengan kencang, mencoba mengalahkan suara music rock yang sengaja kupasangkan keras-keras. Aku merengut dan membuka pintu yang terkunci.

“Kenapa, Ma?” Tanyaku malas sambil menjulurkan kepala ke balik pintu.

Mama menerobos masuk dan mematikan CD-player di sudut ruangan. “Berisik amat, sih? Kuping kamu gak sakit ya?” omel mama.

Aku menekuk mukaku lebih dalam lagi. Yap, perfect! Nggak tau apa orang lagi bete berat? Ini malah ikutan diomelin, lagi! Urrggghh..

Mama melihat wajahku sambil geleng-geleng kepala. “Dari tadi Anggun nelpon, tuh! Udah tujuh kali. Katanya HP kamu off yah?” mama memunguti bekas-bekas bungkus cokelat di atas meja, “Kenapa sih? Lagi berantem yah?”

Aku menghempaskan tubuh ke atas tempat tidur. “Apaan sih, Mama? Suka sok tau deh!”

Mama kembali geleng-geleng kepala. Ia duduk disebelahku dan mengelus rambutku dengan penuh kasih. “Ya udah, kalau bete jangan kelamaan. Kamu sama Anggun kan udah temenan selama tujuh tahun”.

“Delapan,” koreksiku cepat.

“Ya, delapan tahun kan bukan waktu yang singkat. Memangnya apa sih masalahnya?” mama masih saja berusaha mengorek info dariku. Mungkin mama lagi cari bahan gosip kalau nanti telpon-telponan dengan Tante Ria, mamanya Anggun. Ya, karena aku dan Anggun sudah bersahabat sekian lama, mama dan Tante Ria pun jadi ikut temenan.

Aaaahh.. Sudahlah, aku lagi nggak mood untuk ngebahas tentang Anggun. Malas. Jadi teringat akan kejadian itu….

Aku membuat mama kembali geleng-geleng kepala, kali ini sambil mengambil nafas panjang. “Ya udah, mama mau nonton TV dulu,” katanya sambil beranjak, “Kamu kalau mau menyendiri dulu gak pa-pa, nanti kalau Anggun telpon lagi, mama akan bilang kamu lagi tidur. Tapi inget, nyetel musiknya jangan kenceng-kenceng! Nanti mama diomelin sama tetangga.”

Aku mengunci pintu segera setelah mama keluar, kemudian merebahkan diriku di atas kasur. Ternyata bete itu capek juga. Bener kata Anggun, marah itu perlu banyak energi… Duh! Tuh, kan, lagi-lagi kepikiran Anggun! Udah, ah, bete!

Tadi siang, disekolah Bela berjalan cepat menuju kelas, mencoba mencari Anggun untuk mengajaknya pulang bareng. Rumahnya dan rumah Anggun yang tidak terlalu jauh jaraknya membuat mereka selalu berangkat dan pulang bareng. Itu pulalah yang menjadi awal keakraban mereka delapan tahun yang lalu, saat mereka duduk di kelas empat SD. Bela dan Anggun yang sekelas tidak sengaja ketemu di halte saat sedang menunggu angkutan umum. Semenjak itulah mereka jadi sering bersama, layaknya sepasang saudara kembar, meskipun wajah mereka tak terlalu mirip. Anggun lebih cantik, namun Bela lebih pandai. Itu yang membuat mereka saling mengagumi satu sama lain.

Di depan kelas, Bela terpaku. Keadaan kelas memang lengang, namun di sebuah bangku di barisan depan duduklah. Rio, si anak baru pindahan dari Bandung yang keren abis itu. Ia sedang duduk santai sambil mendengarkan musik dan membaca komik. Bela merasa kaku. Tiba-tiba saja tangan dan kakinya jadi panas dingin dan jantungnya terdegup semakin kencang.

Rio memang keren abis! Ganteng lagi.

Bela mencoba mengatur napas sambil terus memperthatikan keajaiban yang kini duduk beberapa meter di depannya itu. Dengan ragu ia melangkah dan bersiap menyapa Rio yang sudah tiga bulan ini selalu mengisi relung hatinya.

Namun, tiba-tiba, wajah Rio terangkat dan tersenyum, membuat Bela terpaku ditempat berdiri.

“Anggun…” bisik Rio.

Bela bengong. Apa Rio yang salah ngomong atau telinganya yang salah dengar ya? Tadi rasanya Rio menyebutkan nama Anggun.

“Makasih CD-nya, ya, Non. Oya, Sabtu jadi nonton, kan?” Tanya Rio.

Anggun mengangguk pelan, “Insyah Allah, jadi.”

Rio memamerkan senyumnya sebelum melangkah ke luar kelas, meninggalkan Bela dan Anggun berdua.

Bela memandang Anggun tak percaya. Nggak mungkin! Selama tiga bulan ini Bela rutin curhat ke Anggun bahwa dirinya jatuh cinta sama Rio, tapi.. barusan ia baru saja memergoki Anggun memberi sebuah CD kepada Rio dan janjian nge-date berdua. Hari Sabtu, pula, malem Minggu lagi! Uuurrgghhh………

Anggun tersenyum polos dan menggandeng tangan Bela, “Pulang sekarang, Bel?”

Bela menghempaskan tangan Anggun dan menampar pipinya, sebelum menjauh pergi dengan wajah merah karena menahan amarah yang memuncak di ubun-ubunnya.

Keesokan harinya. Bela melangkah kesal kearah kelas. Tak seperti biasanya, pagi ini ia datang pagi-pagi sekali untuk menghindari kemungkinan bertemu Anggun di halte. Suasana kelas masih lengang, Bela memanfaatkan waktu yang tersisa sebelum bel sekolah berbunyi untuk menyelesaikan PR fisikanya. Tadi malam ia terlalu penat untuk bisa mengerjakan PR.

Lagi asyik mengerjakan PR, seseorang duduk disebelahnya.

Bela tak terlalu memperhatikan karena ia terlalu sibuk mengerjakan PR-nya segera mungkin. Namun sapaan itu akhirnya menarik perhatiannya.

“Bel, kamu nggak bareng Anggun?”

Tubuh Bela mengejang. Rio. Rio yang ganteng itu duduk disebelahnya! Tapi kemudian ia segera tersadar, barusan Rio menanyakan Anggun.

Bela menjawab malas, “Nggak, kenapa?”

Rio menyodorkan sebuah CD, “Ini CD punya Anggun, gue nitip yah!”

Bela mengerutkan kening sambil melirik CD di atas mejanya, “Damien Rice?”

Rio mengangguk dengan semangat, “Iya, hari ini Ratih, cewek gue, ulatah. Makanya gue pinjem CD Anggun untuk ngopi track Blower’s Daughter. Ratih suka banget sama lagu itu.”

Bela mencoba menyerap semua pernyataan barusan. What Rio…? Rio udah punya cewek? siapa tadi.. Ratih? Lalu, kemari… bukannya Rio jelas-jelas ngajak Anggun nge-date?

“Rio,” Bela menahan Rio yang siap beranjak dari tempat duduknya, “Kemarin, kalau gak salah, lo ngomong soal nonton ya sama Anggun?”

Rio mengangguk, “Yup. Itu loh, Sabtu ini kan anak-anak sekelas pada mau nonton bareng. lo ikut juga kan?”

Bela hanya bisa melongo. Jadi……..?!

Sebuah SMS masuk ke HP Bela.

“Bel, Anggun kecelakaan! Buruan ke RS. Gue tunggu! –Nindy”.

Bela langsung panik. Tanpa pikir panjang ia segera mengambil tasnya di atas meja dan melesat menuju rumah sakit.

Sebuah tetes air mata jatuh membasahi pipi yang kaku dan memutih itu. Pipi yang sama yang telah Bela tampar kemarin sore.

Bela menutup mulutnya tak percaya, mencoba menahan terikan histerisnya.

Perlahan, ia susuri wajah yang selama delapan tahun ini telah memancarkan kehangatan, senyum yang tulus, dan tawa ceria. Kini, wajah itu terlihat dingin.

Begitu… tenang.

Bela mengusap rambut panjangnya Anggun yang indah. Terdapat segumpal darah beku di sana, di atas sebuah jahitan panjang di dahi itu, namun Bela tak peduli. Ia memeluk tubuh itu untuk terakhir kalinya dan membisikkan kata maaf dalam tangis di telinga sahabatnya yang telah pergi untuk selamanya.

Nindy sedang berjalan menuju halte saat mendengar keributan itu. Seorang anak SMA terpelanting karena tertabrak bus ketika menyebrang sambil bengong, begitu kata warga sekitar. Kepalanya menabrak keras aspal, dahinya robek, dan ia pun meninggal seketika. Seorang bapak-bapak sempat mengatakan bahwa anak itu sempat menggumamkan sebuah nama. Bela.

Bela kembali terisak. Ia keluar dari kamar yang dingin itu dan merosotkan badannya di sebuah pilar. Sayup terdengar sebuah lagu dari sebuah kamar tak jauh dari sana.

Bela menutup matanya rapat, mencoba menghilangkan semua perasaan bersalah yang berkecamuk di hatinya.

Bela menangis lagi, kini dalam sunyi.

Kita memang tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi.

Kini, Bela hanya bisa meratap.

Sahabat terbaiknya telah pergi meninggalkannya. Namun, ia akan tetap tinggal di dalam hati Bela sebagai sebuah kenangan.