Kalau Ku Boleh Memilih

Septi tersenyum kecut begitu membuka tudung saji. Di meja makan hanya ada tempe goreng. Tahu goreng, telur balado di tambah oseng-oseng kangkung. Dari hari kehari begitu saja menu yang ada. Kalau ku boleh memilih…

“Aduh, De! Pamali ngomong seperti itu, kamu harus bersyukur bisa makan seperti ini. Masih banyak orang yang lebih prihatin dari kita. Kalau mau melihat kehidupan jangan ke atas, tetapi lihat ke bawah. Dengan begitu hidup ini terasa ringan. Kita jadi penuh rasa syukur. Pokoknya…..”

Ceramah mama bisa panjang sekali. Tidak usah pakai teks deh, seperti pembawa berita di tv. Pokoknya nyerocos terus tidak ada putus-putusnya.

Septi memang hidup dalam keluarga sederhana. Namanya juga sederhana, ya, semuanya serba di sederhana. Tidak boleh punya keinginan yang muluk-muluk. Bahkan handpone-pun menjadi barang yang mewah buat Septi.

“Hari gini, nggak punya handpone?” ledek Dina, teman sebangkunya. Hatinya panas, seperti terbakar api.

“Ade Septi, Mama bisa membelikan kamu handpone. Tapi Mama kan harus memberikan kamu uang lebih untuk membeli pulsa.”

Iya iya. Pokoknya semua omongan Mama benar adanya. Septi pun hanya bisa cemberut. Kalau ku boleh memilih…

Sore hari hujan turun rintik-rintik. Udara tersa dingin menusuk tulang. Mama datang membawa pisang goreng dan singkong goreng. Septi langsung mengambil pisang goreng.

“Hati-hati masih panas!”

“Kalau hujan begini, gado-gado Mama sepi pembeli, ya?”

“Ya, begitulah. Septi, Mama punya ide, nih! Bagaimana kalau kamu bawa nasi uduk sama gorengan ke sekolah?”

Bagai mendengar halilintar, Septi kaget campur takut.

“Kenapa? Malu?” tanya Mama.

Septi diam seribu bahasa. Jantung Septi berdetak dengan cepat.

“Tidak, aku tidak malu. Aku lebih malu kalau hanya bisa minta sama Mama,” jawab Septi lantang. Sepertinya dia merasa tertantang dengan pertanyaan Mama tadi. Padahal hatinnya ketar-ketir.

“Itu baru anak Mama. Pokoknya, ada bagian deh buat tenaga pemasaran.” Mama terlihat semangat sekali. Tinggal Septi yang jadi kebingungan.

Besok paginya, ketika Septi bangun, Mama sudah siap dengan dagangan yang mau dibawa Septi.

“Tidak usah bawa banyak-banyak dulu. Cuma lima bungkus, gorengannya sepuluh. Tawarkan kepada teman dekat dulu!”

“Oke, Mama!” Septi sok semangat.

Padahal kalau ku boleh memilih…..

Jadilah hari itu Septi berangkat lebih pagi. Berharap temannya yang belum sarapan tidak pergi ke kantin. Kelas masih kosong ketika Septi datang. Tidak lama kemudian temannya datang satu per satu. Jantung Septi berdetak lebih cepat, dia siap menawarkan dagangannya.

“Din, sudah sarapan?” tanya Septi pada teman sebangkunya.

“Belum. Yuk, ke kantin!”

“Jangan! Aku jual nasi uduk, nih. Murah, Cuma duaribu limaratus rupiah.”

“Dari tadi donk ngomong. Eh, anak-anak, ada nasi uduk, nih!” teriak Dina.

Gorengannya pun sudah habis terjual. Semudah itu? Septi tidak percaya dia dengan mudah melewati semua.

“Yaaa.. aku tidak kebagian? Besok bawa yang banyak, ya!” pesan Rina yang datang lebih siang. Septi mengangguk pasti.

Besok Mama menambah jumlah dagangannya. Rasa malu Septi perlahan hilang begitu saja. Yang ada di kepalanya hanyalah bonus dari Mama. Masakan Mama emang yahud! Sambalnya yang super hot, dan cepat akrab di lidah teman-teman. Belum seminggu, anak kelas sebelah pun itukan membeli dagangannya Septi, termasuk Heri. Sudah lama Septi menaruh hati pada cowok keren dan manis itu.

Suatu pagi, tanpa sengaja Septi berpapasan dengan Heri di pintu gerbang. Heri langsung membawa kantung dagangannya Septi. Ayah yang mengantar Septi tersenyum penuh arti.

“Jangan Heri! Aku bisa sendiri kok!” Septi tidak enak hati , malu dilihat teman-teman yang lain.

“Tdak apa-apa, biasa saja kali!” jawab Heri enteng.

“Aduh, aku jadi tidak enak nih!” saat mereka beradu pandang, ada rasa hangat didada Septi.

“Aku bangga lho sama kamu!”

Biasa aja kali!”

“Kamu bukan cewek yang biasa, Septi!” Septi jadi salah tingkah, apalagi mereka berjalan bareng.

“Ceila! Ada gosip baru nih!” teriak Dani begitu mereka masuk kelas.

“Biasa aja kali!” jawab mereka kompak, Heri mengantar sampai bangkunya.

“Terima kasih ya!” ucap Septi tulus.

“Romantis banget,” bisik Dani.

“Apanya yang romantis?”

“Kalian sudah jadian, ya?”

Ih, dasar Dani. Mau tau saja urusan orang. Septi hanya tersenyum hangat.

Ah, sekarang aku tahu harus memilih apa.

Aku ingin tetap jadi anak Mama. Mama yang sederhana dengan pemikiran yang sederhana pula. Tapi itu justru yang membuat aku belajar memahami hidup.

Terima kasih Mama, bisik hati Septi.