Liburan

Liburan semakin dekat, tapi Tika, Kiki dan Dewi belum juga memutuskan untuk pergi ke mana atau melakukan apa saat liburan nanti. Apalagi liburan mendatang adalah liburan akhir semester yang cukup panjang, nggak mungkin dilalui dengn begitu saja.

“Perlu perencanaan yang matang, biar nggak menyesal belakangan.” Begitu kata Tika selalu.

Masalnya, baik Tika, Kiki dan Dewi punya ide sendiri-sendiri tentang cara menghabiskan liburan yang menyenangkan.

Menurut Tika, “Liburan ya liburan kegiatannya harus sesuatu yang benar-benar berbeda dari pada yang iasa kita lakukan sehari-hari, lokasinya juga brda biar begitu selesai liburan kita jadi fresh untuk menjalani rutinitas sehari-hari.”

Menurut Dewi, “Liburan  harus yang bisa menghasilkan, supaya semester depannya bisa liburan lagi. Dan itu berarti harus bisa menemukan kegiatan mencari penghasilan yang menyenangkan, biar menjalaninya juga asyik.”

Menurut Kiki, “Liburan itu benar-benar berhenti berkegiatan. Nggak melakukan apa-apa. Tiduur seharian, misalnya.”

“Sangat tidak produktif,” kata Dewi mengomentari ide Kiki.

“Lho namanya juga liburan. Segalanya berarti mesti libur dong…” jawab Kiki membela diri. “Masa libur-libur kerja, cari penghasilan.. itu namanya nggak punya sense of liburan!”

“Itu namanya liburan produktif, sambil menyelam minum air,” jawab Dewi.

Tika mengangkat bahunya. “Kalau gue yang penting liburan mesti bisa bikin fresh. Kalau kerja bisa bikin lo jadi fresh sih jalanin aja…”

“Ih, mana ada kerja bikin orang jadi fresh. Jadi stress, barangkali…” potong Kiki.

“Yah, maaf deh, gue pemalas, “kata Kiki sambil menguap. “Jadi jangan suruh gue kerja pas liburan..”

“Tapi, kita kan mau menghabiskan liburan bareng-bareng. Gimana sih?” Tanya Dewi kesal.

“Jangan sedih, kita tetap bisa liburan bareng dan tetap melakukan hal-hal yang kita sukai,” sahut Tika, santai. “Yang penting perencanaan, Jeng.. seperti gue selalu bilang.”

“Ah, kebanyakan rencana jangan Cuma satu,” kata Tika. “Mesti punya plan b, plan c, plan d..”

“Bikin plan melulu kapan liburannya?”

“Tenang Jeng, dimana ada keinginan, pasti aka nada jalan..” kata Tika memenangkan. “Beda itu biasa, namanya juga kita punya kepala yang berbeda..”

“Jadi kita mau kemana nih?”

“Kita mau ngapain?” potong Dewi.

Tika mengibaskan tangannya. “Mau ke mana, atau ngapain, yang penting tujuannya tercapai.”

“Jadi yang penting tujuan?”

“Ya iya dong! Makanya kita perlu bikin rencana. Prosesnya boleh gimana aja, yang penting tujuannya tercapai.”

Kiki mengeluarkan notesnya dan mulai mencatat tujuan liburan mereka masing-masing, kemudian menyimpulkan, “Jadi.. kita perlu perencanaan liburan yang bisa membuat kita santai, sambil melakukan hal-hal belum pernah kita lakukan sehari-hari, sekaligus bisa menghasiklan!”

“Apakah kita akan ke Bali?” Kiki bertanya.

“Kalau lo Cuma mau tidur-tiduran aja, ngapain mesti beli tiket untuk ke Bali,” jawab Tika. “Jadi mungkin nggak perlu ke Bali.” Kiki cemberut.

“Lagian ke Bali kan mahal!” potong Dewi.

“Jadi dalam kota aja?”

“Dalam kota juga seru. Why not?” sahut Tika.

“Piknik ke manaaaa… dalam kota kan sudah kita jelajah sampai tuntas. Lagian rutinitas kita sehari-hari juga di dalam kota aja,” protes Dewi. “Dan yang paling penting, kalau Cuma dalam kota, gimana caranya gue mendapatkan penghasilan?”

“Kita bisa mendapatkan semunya. Kita bisa piknik, santai-santai, sekaligus dapat duit,” kata Tika sambil tersenyum.

“Kenapa kita nggak bikin tur dalam kota? Kita ajak orang-orang yang dari daerah atau dari dalam kota untuk menyulusuri tempat-tempat seru yang nggak biasa mereka datangi. Seperti tur ke tempat bersejarah di Jakarta? Turk e Kepulauan Seribu, atau wisata kuliner… dengan begitu kita bisa melakukan sesuatu yang berbeda, santai-santai, sekaligus mendapatkan uang!”

“Wow..” Dewi langsung bersemangat.

“Gue setuju banget! Siapa tahu kita bisa jadi pengusaha travel nantinya!”

“Kenapa nggak!” sahut Tika ikut bersemangat. “We have to start some where!”

Bahkan Kiki tampak bersemangat. “Gimana dengan tur belanja? Mendatangi tempat-tempat menarik untuk shopping mulai dari pasar grosir, distro, sampai pasar baju second!”

“Yeah! Kenapa nggak!” sahut Tika. “Lo bisa tetep santai-santai, gue bisa punya kegiatan seru yang berbeda, dan kita tetap bisa punya penghasilan!”

“Ini bisa jadi liburan kita terhebat!”

“Makanya kita perlu bikin rencana.” sahut Tika sambil mengedipkan matanya.